BANGGAI KEPULAUAN – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Desa Batangono, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, masih dalam penanganan tim gabungan. Hingga Rabu, 23 September 2026, api telah membakar lahan hutan dan perkebunan warga dengan luas diperkirakan mencapai 30 hektare.

Pemadaman dilakukan secara manual karena kondisi medan dan sumber air menjadi kendala bagi petugas. Tim harus membawa air menuju titik api yang berada di kawasan perkebunan dan lahan terbuka. Selain penyiraman langsung, petugas juga membuat penyekatan sederhana untuk menghambat perambatan api ke area lain.

Berdasarkan laporan TribrataNews Polres Banggai Kepulauan, penanganan pada Rabu melibatkan sedikitnya 147 personel gabungan. Mereka terdiri atas 11 personel Polsek Buko, 15 personel TNI, delapan anggota pemadam kebakaran, satu petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah, empat personel polisi kehutanan, delapan perangkat Desa Batangono, serta sekitar 100 warga setempat.

Petugas gabungan mulai melakukan pemadaman sejak pukul 09.00 WITA. Penanganan berlangsung hingga sore hari dengan menyasar titik-titik api dan kepulan asap yang masih ditemukan di sejumlah lokasi. Kegiatan pemadaman dan pendinginan pada hari itu berakhir sekitar pukul 17.00 WITA.

Kepala Kepolisian Resor Banggai Kepulauan melalui Kepala Polsek Buko, Inspektur Polisi Satu Nandang Mohamad Sidik, menyampaikan bahwa pemantauan tetap dilakukan karena masih terdapat titik asap yang berada di area sulit dijangkau. Titik-titik tersebut dikhawatirkan kembali menyala apabila tertiup angin kencang.

Sehari sebelumnya, pada Selasa, 23 September 2026, tim gabungan juga mengerahkan 82 personel untuk menangani kebakaran di lokasi yang sama. Personel tersebut terdiri atas unsur TNI, Polri, pemadam kebakaran, dan warga. Pengerahan tambahan dilakukan setelah petugas menemukan adanya penambahan titik api di sekitar wilayah perkebunan dan hutan Desa Batangono.

Pada tahap itu, tim dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja agar pemadaman dapat dilakukan secara lebih terarah. Pembagian kelompok disesuaikan dengan kondisi medan dan lokasi titik api yang tersebar. Langkah tersebut ditempuh untuk mempercepat pemblokiran perambatan api sekaligus mencegah kebakaran mendekati permukiman warga.

Pihak kepolisian menyebut kondisi di area terdampak masih aman dan terkendali, tetapi pengawasan tetap dilanjutkan. Penyisiran dilakukan untuk memastikan tidak ada bara atau titik api baru yang dapat memicu kebakaran susulan.

Kepolisian juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga diminta segera melaporkan apabila melihat kepulan asap atau potensi kebakaran baru di sekitar perkebunan dan kawasan hutan.

Penanganan karhutla di Batangono menjadi perhatian karena kebakaran berlangsung di tengah kondisi lahan yang mudah terbakar. Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan sebelumnya telah mendorong respons cepat dalam menghadapi karhutla dan kekeringan. Koordinasi lintas instansi serta keterlibatan warga dinilai penting untuk mempercepat pemadaman, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau kendaraan dan memiliki keterbatasan sumber air.