BEI Sulawesi Tengah memperluas edukasi investasi melalui Sekolah Pasar Modal yang menyasar pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Palu – Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sulawesi Tengah memperkuat edukasi pasar modal melalui program Sekolah Pasar Modal. Program ini menyasar generasi muda, pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum agar lebih memahami investasi yang legal, terukur, dan sesuai dengan profil risiko.
Deputi Kepala Wilayah Kantor Perwakilan BEI Sulawesi Tengah Dewi Nur Qamariah mengatakan, Sekolah Pasar Modal digelar dalam beberapa tingkatan, mulai dari basic, intermediate, hingga advanced. Kegiatan tersebut tidak hanya berlangsung di kantor BEI, tetapi juga dapat dilaksanakan melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, sekolah, komunitas, organisasi masyarakat, dan mitra strategis lainnya.
Menurut Dewi, program edukasi itu menjadi salah satu cara untuk meningkatkan literasi masyarakat sebelum mengambil keputusan investasi. Peserta diperkenalkan dengan berbagai instrumen pasar modal sekaligus diberikan pemahaman mengenai risiko, mekanisme transaksi, serta pentingnya menyesuaikan pilihan investasi dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
“Tidak semua orang harus memiliki satu produk investasi yang sama. Masyarakat perlu memilih dan mengevaluasi instrumen yang sesuai dengan profil risikonya,” kata Dewi dalam keterangan di Palu, Jumat, 25 September 2026.
BEI Sulteng menjadwalkan Sekolah Pasar Modal secara rutin. Kegiatan yang berlangsung di kantor BEI disebut dapat diikuti sedikitnya dua kali dalam sebulan dan terbuka bagi masyarakat umum. Sementara kegiatan di luar kantor dilaksanakan berdasarkan kerja sama dengan lembaga pendidikan maupun kelompok masyarakat yang mengajukan kolaborasi.
Agenda resmi BEI juga mencatat adanya kegiatan Sekolah Pasar Modal tingkat intermediate yang melibatkan Galeri Investasi Digital BEI di Politeknik Industri Logam Morowali. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 24–25 September 2026. Selain itu, BEI mencantumkan program Sekolah Pasar Modal intermediate untuk masyarakat umum di Kota Palu selama periode 3–30 September 2026.
Dewi menyebut generasi Z dan milenial masih menjadi kelompok yang dominan di kalangan investor pasar modal Sulawesi Tengah. Namun, dari sisi kepemilikan aset, kontribusi investor berusia lebih senior masih lebih besar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa minat anak muda untuk mulai berinvestasi terus tumbuh, tetapi perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai.
Literasi digital menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan pasar modal daerah. Hampir seluruh proses investasi dilakukan melalui sistem digital, sehingga calon investor harus memahami cara menggunakan aplikasi, memeriksa legalitas perusahaan sekuritas, serta mengenali risiko penipuan berkedok investasi.
BEI mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan ajakan di media sosial atau janji keuntungan besar. Calon investor perlu mempelajari produk yang ditawarkan, memastikan perusahaan penyelenggara memiliki izin, dan memahami bahwa setiap investasi memiliki risiko.
Penguatan edukasi tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan investor yang lebih sehat di Sulawesi Tengah. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat tidak hanya terdorong untuk berinvestasi, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara lebih bertanggung jawab dan menghindari praktik investasi ilegal.
Deputi Kepala Wilayah Kantor Perwakilan BEI Sulawesi Tengah Dewi Nur Qamariah mengatakan, Sekolah Pasar Modal digelar dalam beberapa tingkatan, mulai dari basic, intermediate, hingga advanced. Kegiatan tersebut tidak hanya berlangsung di kantor BEI, tetapi juga dapat dilaksanakan melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, sekolah, komunitas, organisasi masyarakat, dan mitra strategis lainnya.
Menurut Dewi, program edukasi itu menjadi salah satu cara untuk meningkatkan literasi masyarakat sebelum mengambil keputusan investasi. Peserta diperkenalkan dengan berbagai instrumen pasar modal sekaligus diberikan pemahaman mengenai risiko, mekanisme transaksi, serta pentingnya menyesuaikan pilihan investasi dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
“Tidak semua orang harus memiliki satu produk investasi yang sama. Masyarakat perlu memilih dan mengevaluasi instrumen yang sesuai dengan profil risikonya,” kata Dewi dalam keterangan di Palu, Jumat, 25 September 2026.
BEI Sulteng menjadwalkan Sekolah Pasar Modal secara rutin. Kegiatan yang berlangsung di kantor BEI disebut dapat diikuti sedikitnya dua kali dalam sebulan dan terbuka bagi masyarakat umum. Sementara kegiatan di luar kantor dilaksanakan berdasarkan kerja sama dengan lembaga pendidikan maupun kelompok masyarakat yang mengajukan kolaborasi.
Agenda resmi BEI juga mencatat adanya kegiatan Sekolah Pasar Modal tingkat intermediate yang melibatkan Galeri Investasi Digital BEI di Politeknik Industri Logam Morowali. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 24–25 September 2026. Selain itu, BEI mencantumkan program Sekolah Pasar Modal intermediate untuk masyarakat umum di Kota Palu selama periode 3–30 September 2026.
Dewi menyebut generasi Z dan milenial masih menjadi kelompok yang dominan di kalangan investor pasar modal Sulawesi Tengah. Namun, dari sisi kepemilikan aset, kontribusi investor berusia lebih senior masih lebih besar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa minat anak muda untuk mulai berinvestasi terus tumbuh, tetapi perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai.
Literasi digital menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan pasar modal daerah. Hampir seluruh proses investasi dilakukan melalui sistem digital, sehingga calon investor harus memahami cara menggunakan aplikasi, memeriksa legalitas perusahaan sekuritas, serta mengenali risiko penipuan berkedok investasi.
BEI mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan ajakan di media sosial atau janji keuntungan besar. Calon investor perlu mempelajari produk yang ditawarkan, memastikan perusahaan penyelenggara memiliki izin, dan memahami bahwa setiap investasi memiliki risiko.
Penguatan edukasi tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan investor yang lebih sehat di Sulawesi Tengah. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat tidak hanya terdorong untuk berinvestasi, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara lebih bertanggung jawab dan menghindari praktik investasi ilegal.
Sumber: ANTARA News Sulteng — Sumber asli
