PALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memasukkan Sulawesi Tengah dalam wilayah yang perlu mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat pada Selasa, 22 September 2026.

Informasi tersebut tercantum dalam peta potensi cuaca ekstrem tiga harian BMKG. Untuk Sulawesi Tengah, status yang diberikan adalah waspada hujan sedang hingga lebat pada 22 September 2026. Sementara pada 23 dan 24 September, provinsi ini tidak tercantum dalam daftar potensi cuaca ekstrem pada pembaruan yang sama.

BMKG membedakan informasi potensi cuaca ekstrem dengan peringatan dini nowcasting. Potensi cuaca ekstrem merupakan gambaran kewaspadaan untuk wilayah dan periode tertentu, sedangkan peringatan dini nowcasting berlaku lebih singkat, umumnya hingga beberapa jam ke depan.

Saat informasi ini diperiksa pada Selasa pagi, laman peringatan dini cuaca BMKG belum menampilkan peringatan nowcasting aktif untuk Sulawesi Tengah. Kondisi itu tidak berarti seluruh wilayah terbebas dari kemungkinan hujan, karena perkembangan awan dan cuaca dapat berubah dalam waktu singkat. Masyarakat tetap diminta memantau pembaruan resmi melalui laman BMKG dan aplikasi InfoBMKG.

Dalam prakiraan cuaca sepekan periode 22–28 September 2026, BMKG juga menyebut Sulawesi Tengah sebagai salah satu wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan hujan dengan intensitas sedang. Secara umum, cuaca di Indonesia pada periode tersebut diprakirakan didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan, tetapi sejumlah wilayah masih berpeluang mengalami hujan dengan intensitas lebih tinggi.

Peningkatan hujan perlu diantisipasi oleh masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, terutama pengguna kendaraan, pekerja lapangan, nelayan, serta warga yang tinggal di sekitar lereng, bantaran sungai, dan kawasan dengan sistem drainase terbatas. Hujan yang turun dalam waktu singkat dapat mengurangi jarak pandang di jalan dan meningkatkan risiko genangan, meskipun tidak semua daerah akan mengalami dampak yang sama.

Bagi petani, informasi cuaca dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan jadwal pengolahan lahan, pemupukan, penyemprotan, maupun panen. Petani dan pelaku usaha di sektor pertanian tetap perlu menyesuaikan keputusan dengan kondisi setempat karena prakiraan pada skala provinsi belum tentu menggambarkan cuaca di setiap kecamatan.

BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi atmosfer kering dan laporan kebakaran hutan serta lahan masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah. Perubahan cuaca yang ditandai hujan lokal tidak otomatis mengakhiri risiko kebakaran di seluruh daerah. Karena itu, warga tetap diminta tidak membakar lahan sembarangan dan segera melaporkan apabila melihat titik api atau kepulan asap.

Masyarakat yang hendak bepergian disarankan memeriksa prakiraan cuaca sebelum berangkat, mengurangi aktivitas di ruang terbuka ketika hujan disertai petir, serta menghindari berteduh di bawah pohon atau tiang yang rawan tersambar. Pengendara juga perlu menurunkan kecepatan ketika jalan licin dan jarak pandang berkurang.

Pemerintah daerah dan aparat terkait diharapkan memastikan saluran air, akses jalan, serta sarana komunikasi kebencanaan tetap berfungsi. Pemantauan kondisi sungai dan wilayah rawan longsor juga penting dilakukan apabila hujan turun dengan intensitas tinggi dalam durasi yang cukup lama.

BMKG meminta masyarakat menjadikan informasi cuaca sebagai bahan kewaspadaan, bukan kepastian bahwa bencana akan terjadi. Pembaruan mengenai peringatan dini dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer dan sebaiknya diperiksa secara berkala melalui kanal resmi BMKG.