PARIGI MOUTONG – Debit air Bendungan Sausu di Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menyusut selama musim kemarau. Pemerintah kecamatan mencatat debit bendungan kini berada di kisaran 10.000 liter per detik, atau turun dari kondisi normal yang biasanya mencapai 20.000 hingga 25.000 liter per detik.

Camat Sausu Agus Salim mengatakan, kondisi tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah di Desa Taliabo dan Desa Sausu Trans. Dua wilayah itu mengandalkan Bendungan Sausu untuk mengairi sekitar 574 hektare areal persawahan.

Menurut perhitungan pemerintah kecamatan, kebutuhan air untuk lahan pertanian di dua desa tersebut sekitar 1.700 liter per detik. Dengan debit yang masih mencapai 10.000 liter per detik, pasokan air untuk kegiatan pertanian saat ini dinilai masih aman.

Meski demikian, pemerintah mengingatkan agar kondisi tersebut tetap diantisipasi. Penurunan debit air dapat menjadi persoalan apabila musim kemarau berlangsung lebih lama dan tidak segera disertai hujan. Pemerintah kecamatan juga meminta petani menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air.

Salah satu langkah yang disarankan adalah menerapkan pola tanam bergilir atau terjadwal. Cara tersebut dinilai dapat membantu menjaga pembagian air agar tetap merata dan mencegah penggunaan air secara berlebihan pada waktu yang bersamaan. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/392557/parigi-moutong-laporkan-debit-air-bendungan-sausu-berkurang-di-musim-kemarau?utm_source=openai))

Agus mengatakan, apabila kemarau berlanjut hingga Desember, petani berpotensi mengalihkan sebagian komoditas dari padi ke tanaman palawija. Jenis tanaman tersebut dipertimbangkan karena kebutuhan airnya lebih rendah dibandingkan tanaman padi.

Sampai saat ini, aktivitas pertanian di Kecamatan Sausu masih berjalan normal. Pemerintah setempat berharap hujan segera turun sehingga debit Bendungan Sausu dapat kembali meningkat dan kebutuhan air untuk lahan persawahan tetap terjaga.

Kondisi di Sausu sejalan dengan peringatan BMKG mengenai potensi kemarau yang relatif kering di Sulawesi Tengah. Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri menyebut September 2026 menjadi periode yang perlu mendapat perhatian karena diperkirakan menjadi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah.

BMKG juga memprakirakan musim kemarau tahun ini datang lebih awal di banyak wilayah dan cenderung lebih kering dari kondisi normal. Berdasarkan prakiraan tersebut, pemerintah daerah dan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan, termasuk berkurangnya ketersediaan air untuk pertanian.

Bagi petani di Sausu, penurunan debit Bendungan Sausu menjadi tanda agar pengelolaan air dilakukan secara lebih hati-hati. Ketersediaan air memang masih mencukupi, tetapi ruang antisipasi perlu disiapkan jika kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.

Pengaturan jadwal tanam, efisiensi penggunaan air, serta koordinasi antara pemerintah, pengelola jaringan irigasi, dan kelompok tani menjadi penting untuk menjaga produktivitas sawah. Langkah tersebut juga dapat membantu petani mengurangi risiko gagal tanam apabila debit bendungan terus menurun dalam beberapa pekan ke depan. ([gaw-bariri.bmkg.go.id](https://gaw-bariri.bmkg.go.id/index.php/profil/kegiatan/427-press-release-prakiraan-musim-kemarau-tahun-2026-sulawesi-tengah?utm_source=openai))