Gempa bumi bermagnitudo 3,8 tercatat di wilayah 18 kilometer utara Morowali, Sulawesi Tengah, pada Kamis sore, 17 September 2026.
MOROWALI – Gempa bumi bermagnitudo 3,8 tercatat mengguncang wilayah utara Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, pada Kamis, 17 September 2026 sore. Berdasarkan informasi awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada sekitar 18 kilometer di utara Morowali dengan kedalaman 10 kilometer.
Gempa tersebut tercatat pada pukul 16.24.33 WIB atau 17.24.33 WITA. Lokasi episenternya berada pada koordinat 2,55 derajat Lintang Selatan dan 121,84 derajat Bujur Timur. Informasi itu disampaikan BMKG melalui kanal informasinya dan dikutip oleh Tribrata News pada Kamis malam.
BMKG menyampaikan bahwa informasi awal gempa bumi mengutamakan kecepatan penyebaran kepada masyarakat. Karena itu, parameter yang disampaikan pada tahap awal masih dapat mengalami perubahan setelah seluruh rekaman seismik dianalisis lebih lanjut oleh petugas.
Hingga informasi tersebut diberitakan, belum ada keterangan mengenai korban maupun kerusakan bangunan yang ditimbulkan oleh gempa. Sumber pemberitaan juga tidak memuat laporan mengenai gangguan terhadap aktivitas masyarakat, fasilitas umum, ataupun kawasan industri di Morowali.
Masyarakat di wilayah yang merasakan getaran diimbau tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum berasal dari lembaga resmi. Pembaruan mengenai magnitudo, kedalaman, lokasi episenter, serta kemungkinan gempa susulan perlu dipantau melalui kanal resmi BMKG.
Gempa dengan magnitudo 3,8 termasuk gempa berkekuatan relatif kecil, tetapi dampaknya tetap dapat berbeda bergantung pada jarak dari pusat gempa, kedalaman, kondisi tanah, serta kualitas bangunan di sekitar lokasi. Warga yang merasakan getaran disarankan memeriksa kondisi rumah dan lingkungan secara hati-hati, terutama bila terdapat retakan baru pada dinding, plafon, atau bagian bangunan lainnya.
Selain itu, warga diminta menghindari bangunan yang terlihat mengalami kerusakan dan tidak menyebarkan kabar mengenai tsunami apabila tidak disertai pernyataan resmi. Berdasarkan informasi awal yang tersedia, gempa ini berada di wilayah Morowali dan belum dilaporkan menimbulkan dampak lanjutan.
Pemerintah daerah, aparat, serta masyarakat dapat menggunakan informasi resmi BMKG sebagai rujukan utama dalam menentukan langkah di lapangan. Apabila ditemukan kerusakan atau ada warga yang membutuhkan bantuan, laporan dapat disampaikan kepada pemerintah desa, BPBD, aparat keamanan, atau layanan darurat setempat untuk ditindaklanjuti.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat Morowali untuk tetap memahami langkah keselamatan saat gempa terjadi. Ketika guncangan berlangsung, warga dianjurkan berlindung di bawah meja atau struktur yang kuat, menjauh dari kaca dan benda yang mudah jatuh, lalu keluar secara tertib setelah guncangan berhenti. Warga yang berada di luar ruangan sebaiknya menjauh dari bangunan, tiang listrik, dan papan reklame.
BMKG masih membuka kemungkinan adanya pemutakhiran data setelah proses analisis selesai. Karena itu, informasi mengenai kejadian gempa Morowali pada Kamis, 17 September 2026 ini perlu dipahami sebagai laporan awal, bukan kesimpulan akhir mengenai seluruh dampak di wilayah terdampak.
Gempa tersebut tercatat pada pukul 16.24.33 WIB atau 17.24.33 WITA. Lokasi episenternya berada pada koordinat 2,55 derajat Lintang Selatan dan 121,84 derajat Bujur Timur. Informasi itu disampaikan BMKG melalui kanal informasinya dan dikutip oleh Tribrata News pada Kamis malam.
BMKG menyampaikan bahwa informasi awal gempa bumi mengutamakan kecepatan penyebaran kepada masyarakat. Karena itu, parameter yang disampaikan pada tahap awal masih dapat mengalami perubahan setelah seluruh rekaman seismik dianalisis lebih lanjut oleh petugas.
Hingga informasi tersebut diberitakan, belum ada keterangan mengenai korban maupun kerusakan bangunan yang ditimbulkan oleh gempa. Sumber pemberitaan juga tidak memuat laporan mengenai gangguan terhadap aktivitas masyarakat, fasilitas umum, ataupun kawasan industri di Morowali.
Masyarakat di wilayah yang merasakan getaran diimbau tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum berasal dari lembaga resmi. Pembaruan mengenai magnitudo, kedalaman, lokasi episenter, serta kemungkinan gempa susulan perlu dipantau melalui kanal resmi BMKG.
Gempa dengan magnitudo 3,8 termasuk gempa berkekuatan relatif kecil, tetapi dampaknya tetap dapat berbeda bergantung pada jarak dari pusat gempa, kedalaman, kondisi tanah, serta kualitas bangunan di sekitar lokasi. Warga yang merasakan getaran disarankan memeriksa kondisi rumah dan lingkungan secara hati-hati, terutama bila terdapat retakan baru pada dinding, plafon, atau bagian bangunan lainnya.
Selain itu, warga diminta menghindari bangunan yang terlihat mengalami kerusakan dan tidak menyebarkan kabar mengenai tsunami apabila tidak disertai pernyataan resmi. Berdasarkan informasi awal yang tersedia, gempa ini berada di wilayah Morowali dan belum dilaporkan menimbulkan dampak lanjutan.
Pemerintah daerah, aparat, serta masyarakat dapat menggunakan informasi resmi BMKG sebagai rujukan utama dalam menentukan langkah di lapangan. Apabila ditemukan kerusakan atau ada warga yang membutuhkan bantuan, laporan dapat disampaikan kepada pemerintah desa, BPBD, aparat keamanan, atau layanan darurat setempat untuk ditindaklanjuti.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat Morowali untuk tetap memahami langkah keselamatan saat gempa terjadi. Ketika guncangan berlangsung, warga dianjurkan berlindung di bawah meja atau struktur yang kuat, menjauh dari kaca dan benda yang mudah jatuh, lalu keluar secara tertib setelah guncangan berhenti. Warga yang berada di luar ruangan sebaiknya menjauh dari bangunan, tiang listrik, dan papan reklame.
BMKG masih membuka kemungkinan adanya pemutakhiran data setelah proses analisis selesai. Karena itu, informasi mengenai kejadian gempa Morowali pada Kamis, 17 September 2026 ini perlu dipahami sebagai laporan awal, bukan kesimpulan akhir mengenai seluruh dampak di wilayah terdampak.
Sumber: Tribrata News Polri — Sumber asli
