PALU – Harga cabai di sejumlah pasar di Sulawesi Tengah mengalami kenaikan tajam pada September 2026. Kenaikan tersebut dipengaruhi berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi akibat kondisi cuaca kering yang berkaitan dengan fenomena El Nino.

Berdasarkan pantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Tengah, harga cabai merah biasa meningkat dari sekitar Rp20 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram. Cabai merah keriting naik dari Rp37.500 menjadi Rp60 ribu per kilogram.

Kenaikan lebih tinggi terjadi pada cabai rawit. Harga cabai rawit merah tercatat mencapai Rp95 ribu per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp49.167. Sementara cabai rawit hijau menyentuh Rp105 ribu per kilogram, naik dari sekitar Rp50 ribu.

Dalam laporan terpisah, harga cabai di sejumlah pasar di Sulawesi Tengah disebut berada pada kisaran Rp105 ribu hingga Rp170 ribu per kilogram, bergantung pada jenis cabai dan lokasi pasar. Kondisi ini membuat komoditas tersebut menjadi salah satu bahan pangan yang paling terasa kenaikannya bagi masyarakat dan pelaku usaha kuliner.

Kepala Disperindag Sulawesi Tengah Richard Arnaldo Djanggola mengatakan kenaikan harga dipengaruhi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Pasokan dari daerah penghasil menurun, sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi dan cenderung meningkat.

Selain faktor cuaca, peningkatan permintaan juga dipengaruhi berbagai kegiatan masyarakat, termasuk perayaan Maulid. Cabai yang merupakan komoditas mudah rusak tidak dapat disimpan dalam jumlah besar untuk waktu lama. Karena itu, ketersediaannya sangat bergantung pada kelancaran distribusi dari daerah sentra produksi.

Sebagian pasokan cabai untuk Sulawesi Tengah berasal dari Sulawesi Selatan. Adapun daerah penghasil di dalam provinsi, seperti Kabupaten Sigi dan wilayah Napu, masih belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam jumlah besar.

Untuk menahan laju kenaikan harga, Disperindag Sulawesi Tengah berkoordinasi dengan dinas pertanian di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Pemerintah juga menghubungi daerah-daerah penghasil untuk memeriksa ketersediaan stok dan membuka peluang pengiriman apabila terdapat surplus produksi.

Pasokan tambahan itu nantinya diupayakan masuk melalui kerja sama dengan distributor. Pemerintah berharap langkah tersebut dapat memperbaiki ketersediaan cabai sekaligus mengurangi tekanan harga di tingkat konsumen.

Selain mengupayakan pasokan dari luar daerah, Pemprov Sulawesi Tengah menyiapkan pasar murah di sejumlah titik selama September. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan bersama pemerintah kabupaten dan kota. Pasar murah sebelumnya telah digelar di Kabupaten Donggala, antara lain di Kecamatan Banawa dan Labuan.

Richard menyebut kenaikan harga cabai mulai terlihat pada September, sedangkan sepanjang Agustus harga relatif normal. Pemerintah masih memantau perkembangan harga dan distribusi agar gejolak tidak meluas ke komoditas pangan lainnya.

Di tengah kenaikan harga cabai, harga beras, minyak goreng, dan gula disebut masih dalam kondisi normal dengan ketersediaan stok yang mencukupi. Namun, masyarakat tetap diimbau berbelanja secara wajar dan tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat mempercepat tekanan terhadap pasokan.

Pemerintah daerah juga perlu memastikan pelaksanaan pasar murah tepat sasaran dan berlangsung di wilayah yang mengalami kenaikan harga paling tinggi. Dengan begitu, intervensi yang dilakukan tidak hanya menambah pasokan sementara, tetapi juga membantu menjaga daya beli masyarakat hingga distribusi cabai kembali stabil.