Kebakaran hutan dan lahan di Desa Tampemadoro, Poso, meluas ke permukiman. Sekitar 15 hektare lahan dan dua rumah warga terdampak.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Desa Tampemadoro, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Minggu, 20 September 2026. Kobaran api yang bermula dari area perkebunan warga meluas hingga mendekati permukiman dan menyebabkan dua rumah warga terbakar.
Berdasarkan laporan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 15 hektare. Api dilaporkan mulai muncul sekitar pukul 06.00 WITA. Tiupan angin yang cukup kencang membuat kobaran cepat merambat dari kawasan kebun menuju area tempat tinggal warga.
Kepala Pelaksana BPBD Poso, Darma Metusala, mengatakan api masih belum sepenuhnya dapat dipadamkan pada Minggu sore. Petugas gabungan tetap berjaga di sekitar desa untuk mencegah api kembali bergerak ke permukiman.
“Api sekarang berada di bawah, agak jauh dari permukiman. Jadi tim berjaga di pinggiran desa. Kalau api menyeberang baru kita antisipasi,” kata Darma sebagaimana dikutip detikSulsel.
Selain membakar lahan perkebunan, kebakaran tersebut menghanguskan dua unit rumah. Data mengenai jumlah warga yang mengungsi masih dalam proses pendataan oleh petugas. Hingga laporan terakhir, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian itu.
Upaya pemadaman dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan BPBD Poso, pemadam kebakaran, TNI, Polri, serta masyarakat setempat. Namun, proses penanganan menghadapi kendala karena titik api berada di kawasan bergunung dan sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Kepala Pelaksana BPBD Poso menjelaskan, kondisi medan membuat mobil pemadam tidak dapat masuk hingga ke lokasi kebakaran. Petugas kemudian mengandalkan peralatan yang tersedia serta melakukan penjagaan di titik-titik yang berpotensi terdampak.
BPBD juga mengidentifikasi kebutuhan tambahan untuk mempercepat penanganan, antara lain mobil tangki air, mesin pemadam portabel, selang pemadam, dan tandon penampungan air. Kebutuhan tersebut diperlukan karena api masih berpotensi meluas apabila angin kembali bertiup kencang.
Dugaan awal menyebutkan kebakaran berasal dari aktivitas masyarakat di area kebun. Namun, penyebab tersebut masih berupa dugaan dan belum menjadi kesimpulan resmi. Petugas masih melakukan penanganan serta pendataan dampak di lapangan.
Peristiwa di Tampemadoro menambah daftar kejadian karhutla di Poso selama musim kemarau 2026. Pemerintah Kabupaten Poso sebelumnya menyatakan telah menyiapkan posko siaga dan mengintensifkan koordinasi antara BPBD, pemadam kebakaran, aparat keamanan, pemerintah desa, serta masyarakat untuk menghadapi ancaman kebakaran lahan.
Masyarakat di sekitar lokasi diminta tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu api, terutama pembakaran terbuka di tengah kondisi lahan yang kering. Warga juga diimbau segera melaporkan apabila menemukan titik asap atau api agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.
Berdasarkan laporan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 15 hektare. Api dilaporkan mulai muncul sekitar pukul 06.00 WITA. Tiupan angin yang cukup kencang membuat kobaran cepat merambat dari kawasan kebun menuju area tempat tinggal warga.
Kepala Pelaksana BPBD Poso, Darma Metusala, mengatakan api masih belum sepenuhnya dapat dipadamkan pada Minggu sore. Petugas gabungan tetap berjaga di sekitar desa untuk mencegah api kembali bergerak ke permukiman.
“Api sekarang berada di bawah, agak jauh dari permukiman. Jadi tim berjaga di pinggiran desa. Kalau api menyeberang baru kita antisipasi,” kata Darma sebagaimana dikutip detikSulsel.
Selain membakar lahan perkebunan, kebakaran tersebut menghanguskan dua unit rumah. Data mengenai jumlah warga yang mengungsi masih dalam proses pendataan oleh petugas. Hingga laporan terakhir, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian itu.
Upaya pemadaman dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan BPBD Poso, pemadam kebakaran, TNI, Polri, serta masyarakat setempat. Namun, proses penanganan menghadapi kendala karena titik api berada di kawasan bergunung dan sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Kepala Pelaksana BPBD Poso menjelaskan, kondisi medan membuat mobil pemadam tidak dapat masuk hingga ke lokasi kebakaran. Petugas kemudian mengandalkan peralatan yang tersedia serta melakukan penjagaan di titik-titik yang berpotensi terdampak.
BPBD juga mengidentifikasi kebutuhan tambahan untuk mempercepat penanganan, antara lain mobil tangki air, mesin pemadam portabel, selang pemadam, dan tandon penampungan air. Kebutuhan tersebut diperlukan karena api masih berpotensi meluas apabila angin kembali bertiup kencang.
Dugaan awal menyebutkan kebakaran berasal dari aktivitas masyarakat di area kebun. Namun, penyebab tersebut masih berupa dugaan dan belum menjadi kesimpulan resmi. Petugas masih melakukan penanganan serta pendataan dampak di lapangan.
Peristiwa di Tampemadoro menambah daftar kejadian karhutla di Poso selama musim kemarau 2026. Pemerintah Kabupaten Poso sebelumnya menyatakan telah menyiapkan posko siaga dan mengintensifkan koordinasi antara BPBD, pemadam kebakaran, aparat keamanan, pemerintah desa, serta masyarakat untuk menghadapi ancaman kebakaran lahan.
Masyarakat di sekitar lokasi diminta tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu api, terutama pembakaran terbuka di tengah kondisi lahan yang kering. Warga juga diimbau segera melaporkan apabila menemukan titik asap atau api agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.
Sumber: detikSulsel — Sumber asli
