POSO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Sedikitnya 15 hektare lahan perkebunan serta dua rumah warga terbakar di Desa Tampemadoro, Kecamatan Lage, pada Minggu, 20 September 2026.

Kebakaran tersebut ditangani tim gabungan yang terdiri atas personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Poso, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, dan masyarakat. Petugas masih melakukan pemadaman sekaligus melokalisasi titik api agar tidak meluas ke area perkebunan maupun permukiman lain.

Berdasarkan laporan BPBD Sulawesi Tengah yang dikutip ANTARA, proses pemadaman membutuhkan dukungan peralatan tambahan. Sejumlah kebutuhan yang disebut mendesak antara lain armada mobil tangki air, mesin pemadam portabel, selang pemadam, tandon penampungan, serta pasokan air tambahan. Peralatan tersebut diperlukan untuk mempercepat penanganan di lokasi yang terdampak kebakaran. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/393591/karhutla-hanguskan-puluhan-hektare-lahan-dan-dua-rumah-warga-di-kabupaten-poso?utm_source=openai))

Pusdalops BPBD Sulawesi Tengah bersama BPBD Poso juga terus memantau perkembangan situasi. Masyarakat di sekitar lokasi diminta meningkatkan kewaspadaan karena angin kencang dapat mempercepat penyebaran api, terutama pada lahan yang kering dan memiliki banyak material mudah terbakar.

Peristiwa di Desa Tampemadoro menambah daftar kejadian karhutla yang terjadi di Poso selama musim kemarau panjang. Sebelumnya, kebakaran juga melanda Desa Pasir Putih dan Desa Bangun Jaya, Kecamatan Pamona Selatan. Pemerintah Kabupaten Poso menyebut kebakaran di wilayah tersebut terjadi di sejumlah titik yang tersebar di beberapa kecamatan sejak Juli hingga September 2026.

Dalam penanganan di Pamona Selatan, pemerintah daerah melibatkan BPBD, TNI-Polri, pemadam kebakaran, Manggala Agni, masyarakat peduli api, pemerintah desa, serta unsur masyarakat lainnya. Koordinasi lintas sektor diperkuat karena sebagian lokasi kebakaran berada di area gambut dan perkebunan yang membutuhkan penanganan berbeda dibandingkan lahan biasa. ([ppid.posokab.go.id](https://ppid.posokab.go.id/index.php/berita/terbaru/kemarau-panjang-2026-karhutla-landa-sejumlah-wilayah-poso-pemerintah-daerah-dan-seluruh-unsur-bergerak-bersama-2026-09-15?utm_source=openai))

Data Pusdalops BPBD Sulawesi Tengah yang disampaikan dalam laporan terbaru ANTARA mencatat, hingga pertengahan September 2026 telah terjadi 196 kejadian karhutla di Sulawesi Tengah. Luas lahan terdampak secara akumulatif mencapai sekitar 1.552 hektare. Pada Agustus saja, jumlah kejadian meningkat signifikan dengan catatan 120 peristiwa.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih perlu diantisipasi secara serius, bukan hanya ketika api sudah membesar. Pencegahan melalui pengawasan kawasan rawan, patroli, edukasi masyarakat, serta larangan pembakaran lahan secara sembarangan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko.

Pemerintah juga mengingatkan warga agar segera melaporkan kepulan asap atau titik api kepada aparat desa, petugas pemadam, maupun BPBD. Laporan lebih awal dapat membantu petugas melakukan pemeriksaan dan pemadaman sebelum api menjalar ke lahan yang lebih luas.

Dengan kondisi kemarau dan ketersediaan air yang terbatas, penanganan karhutla di Poso membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Selain menjaga keselamatan warga, langkah cepat juga diperlukan untuk mencegah kerusakan kebun, lahan gambut, fasilitas umum, dan rumah penduduk yang berada di sekitar kawasan rawan kebakaran.