POSO – Elevasi muka air Danau Poso, Sulawesi Tengah, turun hampir dua meter di tengah kemarau panjang yang berlangsung pada September 2026. Penurunan ini menjadi perhatian karena danau tersebut merupakan sumber air bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso yang memasok kebutuhan listrik di sejumlah wilayah Sulawesi.

Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III Palu, Medya Ramdhan, mengatakan data pemantauan terakhir menunjukkan elevasi muka air Danau Poso berada di sekitar 510,267 meter. Angka tersebut turun dibandingkan muka air tertinggi sebelumnya yang mencapai sekitar 512,2 meter.

Menurut Medya, BWSS III Palu terus memantau perkembangan kondisi danau secara berkala. Pemantauan dilakukan dengan memperhatikan kondisi hidrologi, curah hujan, aliran air yang masuk dan keluar, serta keadaan kawasan di sekitar Danau Poso.

Penurunan muka air tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan air untuk kebutuhan pembangkit. BWSS III Palu menyebut kondisi itu dapat berdampak terhadap produksi energi listrik PLTA Poso Energy apabila kemarau berlangsung lebih lama atau curah hujan tidak segera meningkat.

“Penurunan elevasi muka air Danau Poso dapat memberikan pengaruh terhadap produksi energi listrik,” kata Medya dalam keterangannya yang dikutip pada Selasa, 8 September 2026.

PLTA Poso memiliki kapasitas terpasang 515 megawatt. Energi yang dihasilkan kemudian disalurkan melalui sistem PLN untuk melayani masyarakat dan sektor industri di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, serta Sulawesi Tenggara.

Manajer PT Poso Energy Asmaruddin sebelumnya mengatakan perusahaan telah menyesuaikan pola operasi pembangkit untuk menghadapi dampak El Nino dan berkurangnya curah hujan di wilayah tangkapan air Danau Poso. Porsi produksi energi pada musim penghujan ditetapkan lebih besar dibandingkan musim kemarau.

Dalam skema tersebut, produksi pada musim penghujan diproyeksikan sebesar 55 persen, sedangkan porsi produksi pada musim kemarau sekitar 45 persen. Penyesuaian itu dilakukan agar pasokan listrik tetap terjaga dengan mempertimbangkan kondisi air yang tersedia.

Asmaruddin juga menyebut permukaan Danau Poso pada September 2026 lebih rendah dibandingkan periode yang sama saat fenomena El Nino 2023. Berdasarkan pemantauan PT Poso Energy, elevasi danau berada di sekitar 510,3 meter dari permukaan laut, atau turun sekitar 1,6 meter dari posisi tertinggi pada Mei 2026.

Perusahaan bersama PLN telah melakukan sejumlah langkah mitigasi. Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca yang dimulai pada awal September. Kegiatan tersebut menggunakan dua unit pesawat tanpa awak di wilayah Desa Tokilo, Kecamatan Pamona Tenggara, dan Desa Meko, Kecamatan Pamona Barat.

Upaya itu dilakukan untuk membantu meningkatkan peluang hujan di kawasan tangkapan air Danau Poso. Namun, keberlanjutan pasokan listrik tetap bergantung pada perkembangan cuaca, curah hujan, serta inflow atau aliran air yang masuk ke danau.

PT Poso Energy memperkirakan kondisi muka air masih dapat menurun hingga Oktober apabila kemarau berlanjut. Perusahaan berharap musim penghujan mulai berlangsung pada akhir Oktober hingga Desember dengan intensitas hujan yang memadai sehingga produksi listrik dapat kembali memenuhi rencana.

BWSS III Palu dan pengelola PLTA kini terus mengevaluasi kondisi Danau Poso. Pemantauan tersebut penting untuk memastikan keputusan mengenai pola operasi pembangkit dapat dilakukan berdasarkan kondisi lapangan dan tidak mengganggu keandalan pasokan listrik bagi empat provinsi di Sulawesi.