Penurunan elevasi Danau Poso akibat kemarau panjang mendorong PLN dan Poso Energy menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga pasokan listrik.
POSO – Muka air Danau Poso, Sulawesi Tengah, mengalami penurunan hampir dua meter di tengah kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino. Kondisi ini menjadi perhatian karena danau tersebut merupakan sumber air utama Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso yang memasok kebutuhan listrik di sejumlah wilayah Sulawesi.
Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III Palu, Medya Ramdhan, mengatakan elevasi muka air Danau Poso berdasarkan pemantauan terakhir berada di sekitar 510,267 meter. Angka tersebut turun kurang lebih dua meter jika dibandingkan dengan elevasi tertinggi sebelumnya yang mencapai sekitar 512,2 meter.
Menurut Medya, penurunan elevasi danau dipengaruhi kondisi hidrologi, termasuk berkurangnya curah hujan serta aliran masuk ke danau. BWSS III Palu masih melakukan pemantauan berkala dengan memperhatikan elevasi muka air, debit sungai, inflow, outflow, curah hujan, dan perkembangan kondisi kawasan sekitar danau.
Penurunan muka air tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan air untuk operasional PLTA Poso Energy. Jika kondisi berlanjut, kemampuan pembangkit dalam menghasilkan energi listrik dapat ikut terdampak. PLTA Poso memiliki kapasitas terpasang 515 megawatt dan listriknya disalurkan untuk melayani kebutuhan masyarakat serta industri di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
Manajer PT Poso Energy Asmaruddin sebelumnya menyampaikan bahwa hasil pemantauan pada 5 September 2026 menunjukkan elevasi Danau Poso berada di sekitar 510,3 meter di atas permukaan laut. Jika dibandingkan dengan puncak elevasi pada Mei 2026, yang berada di sekitar 511,9 meter, maka terjadi penurunan sekitar 1,6 meter.
Ia mengatakan kondisi muka air pada September 2026 juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama saat El Nino pada 2023. Pada September 2023, elevasi danau tercatat sekitar 510,6 meter. Perbedaan tersebut membuat pengelola pembangkit dan PLN perlu menyiapkan pola operasi untuk menghadapi kemungkinan berlanjutnya kemarau hingga Oktober.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengatur porsi produksi energi dari PLTA. Pada musim penghujan, porsi produksi ditetapkan sekitar 55 persen, sedangkan selama musim kemarau berada di kisaran 45 persen. Pengaturan itu dilakukan untuk menyesuaikan kemampuan pembangkit dengan ketersediaan air di Danau Poso.
PT Poso Energy juga menjalankan upaya modifikasi cuaca menggunakan dua unit pesawat tanpa awak di wilayah Desa Tokilo, Kecamatan Pamona Tenggara, dan Desa Meko, Kecamatan Pamona Barat. Langkah tersebut ditujukan untuk membantu meningkatkan curah hujan di kawasan tangkapan air dan menjaga inflow ke danau.
Pemerintah Kabupaten Poso bersama PLN telah meninjau kondisi Danau Poso pada 5 September. Dalam peninjauan itu, penurunan muka air disebut berlangsung dengan tren rata-rata sekitar dua sentimeter per hari. Jika tren tersebut terus terjadi sementara musim hujan belum datang, muka air danau masih berpotensi turun lebih jauh.
Pemerintah daerah, PLN, PT Poso Energy, BWSS III Palu, dan instansi teknis terkait akan melanjutkan pemantauan serta koordinasi. Masyarakat juga diharapkan ikut menjaga kawasan Danau Poso dan daerah tangkapan air agar keberlanjutan sumber air serta ketahanan pasokan listrik tetap terjaga.
Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III Palu, Medya Ramdhan, mengatakan elevasi muka air Danau Poso berdasarkan pemantauan terakhir berada di sekitar 510,267 meter. Angka tersebut turun kurang lebih dua meter jika dibandingkan dengan elevasi tertinggi sebelumnya yang mencapai sekitar 512,2 meter.
Menurut Medya, penurunan elevasi danau dipengaruhi kondisi hidrologi, termasuk berkurangnya curah hujan serta aliran masuk ke danau. BWSS III Palu masih melakukan pemantauan berkala dengan memperhatikan elevasi muka air, debit sungai, inflow, outflow, curah hujan, dan perkembangan kondisi kawasan sekitar danau.
Penurunan muka air tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan air untuk operasional PLTA Poso Energy. Jika kondisi berlanjut, kemampuan pembangkit dalam menghasilkan energi listrik dapat ikut terdampak. PLTA Poso memiliki kapasitas terpasang 515 megawatt dan listriknya disalurkan untuk melayani kebutuhan masyarakat serta industri di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
Manajer PT Poso Energy Asmaruddin sebelumnya menyampaikan bahwa hasil pemantauan pada 5 September 2026 menunjukkan elevasi Danau Poso berada di sekitar 510,3 meter di atas permukaan laut. Jika dibandingkan dengan puncak elevasi pada Mei 2026, yang berada di sekitar 511,9 meter, maka terjadi penurunan sekitar 1,6 meter.
Ia mengatakan kondisi muka air pada September 2026 juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama saat El Nino pada 2023. Pada September 2023, elevasi danau tercatat sekitar 510,6 meter. Perbedaan tersebut membuat pengelola pembangkit dan PLN perlu menyiapkan pola operasi untuk menghadapi kemungkinan berlanjutnya kemarau hingga Oktober.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengatur porsi produksi energi dari PLTA. Pada musim penghujan, porsi produksi ditetapkan sekitar 55 persen, sedangkan selama musim kemarau berada di kisaran 45 persen. Pengaturan itu dilakukan untuk menyesuaikan kemampuan pembangkit dengan ketersediaan air di Danau Poso.
PT Poso Energy juga menjalankan upaya modifikasi cuaca menggunakan dua unit pesawat tanpa awak di wilayah Desa Tokilo, Kecamatan Pamona Tenggara, dan Desa Meko, Kecamatan Pamona Barat. Langkah tersebut ditujukan untuk membantu meningkatkan curah hujan di kawasan tangkapan air dan menjaga inflow ke danau.
Pemerintah Kabupaten Poso bersama PLN telah meninjau kondisi Danau Poso pada 5 September. Dalam peninjauan itu, penurunan muka air disebut berlangsung dengan tren rata-rata sekitar dua sentimeter per hari. Jika tren tersebut terus terjadi sementara musim hujan belum datang, muka air danau masih berpotensi turun lebih jauh.
Pemerintah daerah, PLN, PT Poso Energy, BWSS III Palu, dan instansi teknis terkait akan melanjutkan pemantauan serta koordinasi. Masyarakat juga diharapkan ikut menjaga kawasan Danau Poso dan daerah tangkapan air agar keberlanjutan sumber air serta ketahanan pasokan listrik tetap terjaga.
Sumber: ANTARA News Sulteng — Sumber asli
