MOROWALI – Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, tidak hanya mengandalkan industri nikel. Pabrik pengolahan kelapa terintegrasi milik PT Freenow Food Industry resmi mulai beroperasi di Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP), Kecamatan Bungku Barat, pada Senin, 7 September 2026.

Peresmian fasilitas tersebut menandai masuknya investasi besar di sektor hilirisasi perkebunan. Berdasarkan keterangan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai investasi proyek ini mencapai sekitar Rp776 miliar. Pada tahap awal, perusahaan diperkirakan menyerap hampir 2.900 tenaga kerja. ([m.antaranews.com](https://m.antaranews.com/amp/berita/5731544/rosan-dukung-pengoperasian-industri-pengolahan-kelapa-di-morowali?utm_source=openai))

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyebut pengoperasian industri tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa di dalam negeri. Selama ini, sebagian hasil perkebunan kelapa masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga manfaat ekonomi yang diterima petani dan daerah belum maksimal.

Pabrik PT Freenow Food Industry dirancang menggunakan hampir seluruh bagian buah kelapa. Pada fase pertama, fasilitas ini akan mengolah daging kelapa menjadi santan, air kelapa menjadi konsentrat, minyak kelapa, serta tempurung menjadi arang. Pengembangan berikutnya diarahkan pada produk dengan nilai tambah lebih tinggi, termasuk susu kelapa dan minuman siap konsumsi untuk pasar ekspor. ([m.antaranews.com](https://m.antaranews.com/amp/berita/5731544/rosan-dukung-pengoperasian-industri-pengolahan-kelapa-di-morowali?utm_source=openai))

Kapasitas bahan baku pada tahap awal diproyeksikan mencapai sekitar 184 ribu ton kelapa per tahun. Jika beroperasi penuh, kebutuhan bahan baku industri ini ditargetkan setara dengan 500 juta butir kelapa setiap tahun. Pemerintah memperkirakan ekosistem usaha tersebut dapat melibatkan hingga 10.000 petani dan anggota masyarakat.

Bagi Morowali, kehadiran pabrik ini membuka peluang diversifikasi ekonomi di tengah kuatnya dominasi sektor pertambangan. Industri pengolahan kelapa dapat menciptakan rantai usaha baru, mulai dari penyediaan bahan baku, pengangkutan hasil panen, pengolahan, hingga pemasaran produk turunan.

Namun, keterlibatan petani menjadi salah satu faktor penting agar investasi tersebut memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Rosan meminta perusahaan memastikan pembelian bahan baku dengan harga yang adil, mendukung peremajaan kebun rakyat, serta melibatkan usaha mikro, kecil, dan menengah dalam rantai pasok.

Permintaan bahan baku dalam jumlah besar juga perlu diimbangi dengan kepastian produksi perkebunan. Peremajaan tanaman, peningkatan produktivitas kebun, serta pendampingan bagi petani menjadi pekerjaan lanjutan yang perlu disiapkan pemerintah daerah bersama perusahaan.

Pemerintah berharap pengoperasian pabrik tersebut tidak berhenti pada kegiatan produksi, tetapi berkembang menjadi pusat hilirisasi kelapa yang terhubung dengan petani lokal. Dengan demikian, komoditas kelapa tidak hanya dikirim keluar daerah sebagai bahan mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah dan berpotensi menembus pasar ekspor.

Masuknya industri kelapa di Morowali sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan kawasan industri di Sulawesi Tengah mulai bergerak ke sektor yang lebih beragam. Tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat investasi dirasakan secara luas, terutama melalui penyerapan tenaga kerja lokal, kemitraan dengan petani, dan penguatan pelaku UMKM di sekitar kawasan industri.