Pemkab Parigi Moutong mengusulkan daerahnya menjadi lokus Program SEHATI 2027 dengan mengandalkan sektor pangan, perkebunan, perikanan, dan desa.
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong mengusulkan wilayahnya menjadi lokus pelaksanaan Program Swasembada Ekonomi Hijau dan Ketahanan Pangan Terintegrasi atau SEHATI pada 2027. Usulan itu disampaikan Bupati Parigi Moutong Erwin Burase dalam audiensi bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal di Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk memaparkan potensi sekaligus tantangan pembangunan Parigi Moutong. Pemkab berharap program dari pemerintah pusat itu dapat disinergikan dengan program Gerakan Membangun Desa atau GERBANG DESA yang telah disiapkan di daerah.
Dalam audiensi tersebut, pemerintah kabupaten menawarkan sektor pertanian dan perkebunan sebagai fondasi pelaksanaan program. Parigi Moutong dikenal memiliki wilayah pertanian yang luas dan menjadi salah satu daerah penghasil beras terbesar di Sulawesi Tengah. Selain beras, pemerintah daerah juga menyampaikan potensi durian, kelapa dalam, dan kakao.
Bupati Erwin menyebut komoditas durian Parigi Moutong telah menembus pasar Tiongkok, meskipun pengirimannya masih dalam bentuk produk beku. Menurut dia, berbagai komoditas tersebut masih memiliki peluang untuk dikembangkan melalui peningkatan produksi, pengolahan, dan perluasan akses pasar.
Potensi kelautan di kawasan Teluk Tomini juga menjadi bagian dari materi yang disampaikan kepada pemerintah pusat. Pemerintah daerah menilai sumber daya hayati di kawasan tersebut dapat dikembangkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat pesisir serta membuka peluang investasi di sektor perikanan.
Namun, Pemkab Parigi Moutong mengakui pelaksanaan program tidak lepas dari tantangan geografis. Wilayah kabupaten ini membentang dari kawasan pesisir, dataran rendah, perbukitan, hingga pegunungan. Kondisi tersebut membuat akses menuju sejumlah desa masih terbatas.
Kepala Dinas Perhubungan Parigi Moutong, Lewis, menjelaskan bahwa kualitas sejumlah ruas jalan dan jarak antarkawasan berdampak terhadap mobilitas penduduk. Hambatan akses juga memengaruhi pelayanan dasar serta distribusi hasil pertanian dan perkebunan dari sentra produksi menuju pasar.
Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Desa dan Daerah Tertinggal Kemendes PDT, Mulyadin Malik, memberikan respons positif terhadap usulan tersebut. Ia menyampaikan bahwa Parigi Moutong berpeluang ditetapkan sebagai lokus SEHATI pada 2027. Pelaksanaan program itu juga berpotensi dihubungkan dengan pengembangan kawasan transmigrasi.
Meski demikian, sampai saat ini Parigi Moutong belum ditetapkan secara resmi sebagai lokus program. Pemerintah kabupaten masih harus melengkapi dokumen dan persyaratan administratif yang diminta kementerian. Pemkab menyatakan akan segera menyiapkan berkas tersebut agar proses usulan dapat berlanjut.
Jika nantinya ditetapkan, Program SEHATI diharapkan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi pangan. Program tersebut juga diharapkan mampu memperkuat ekonomi desa, mendorong pengolahan komoditas lokal, meningkatkan konektivitas, dan memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat pesisir maupun wilayah pegunungan.
Bagi Parigi Moutong, peluang masuk dalam program nasional itu menjadi momentum untuk menyatukan potensi pertanian, perkebunan, perikanan, dan pembangunan desa. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada kejelasan lokasi sasaran, kesiapan dokumen, koordinasi lintas lembaga, serta kemampuan pemerintah daerah memastikan program benar-benar menyentuh masyarakat.
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk memaparkan potensi sekaligus tantangan pembangunan Parigi Moutong. Pemkab berharap program dari pemerintah pusat itu dapat disinergikan dengan program Gerakan Membangun Desa atau GERBANG DESA yang telah disiapkan di daerah.
Dalam audiensi tersebut, pemerintah kabupaten menawarkan sektor pertanian dan perkebunan sebagai fondasi pelaksanaan program. Parigi Moutong dikenal memiliki wilayah pertanian yang luas dan menjadi salah satu daerah penghasil beras terbesar di Sulawesi Tengah. Selain beras, pemerintah daerah juga menyampaikan potensi durian, kelapa dalam, dan kakao.
Bupati Erwin menyebut komoditas durian Parigi Moutong telah menembus pasar Tiongkok, meskipun pengirimannya masih dalam bentuk produk beku. Menurut dia, berbagai komoditas tersebut masih memiliki peluang untuk dikembangkan melalui peningkatan produksi, pengolahan, dan perluasan akses pasar.
Potensi kelautan di kawasan Teluk Tomini juga menjadi bagian dari materi yang disampaikan kepada pemerintah pusat. Pemerintah daerah menilai sumber daya hayati di kawasan tersebut dapat dikembangkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat pesisir serta membuka peluang investasi di sektor perikanan.
Namun, Pemkab Parigi Moutong mengakui pelaksanaan program tidak lepas dari tantangan geografis. Wilayah kabupaten ini membentang dari kawasan pesisir, dataran rendah, perbukitan, hingga pegunungan. Kondisi tersebut membuat akses menuju sejumlah desa masih terbatas.
Kepala Dinas Perhubungan Parigi Moutong, Lewis, menjelaskan bahwa kualitas sejumlah ruas jalan dan jarak antarkawasan berdampak terhadap mobilitas penduduk. Hambatan akses juga memengaruhi pelayanan dasar serta distribusi hasil pertanian dan perkebunan dari sentra produksi menuju pasar.
Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Desa dan Daerah Tertinggal Kemendes PDT, Mulyadin Malik, memberikan respons positif terhadap usulan tersebut. Ia menyampaikan bahwa Parigi Moutong berpeluang ditetapkan sebagai lokus SEHATI pada 2027. Pelaksanaan program itu juga berpotensi dihubungkan dengan pengembangan kawasan transmigrasi.
Meski demikian, sampai saat ini Parigi Moutong belum ditetapkan secara resmi sebagai lokus program. Pemerintah kabupaten masih harus melengkapi dokumen dan persyaratan administratif yang diminta kementerian. Pemkab menyatakan akan segera menyiapkan berkas tersebut agar proses usulan dapat berlanjut.
Jika nantinya ditetapkan, Program SEHATI diharapkan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi pangan. Program tersebut juga diharapkan mampu memperkuat ekonomi desa, mendorong pengolahan komoditas lokal, meningkatkan konektivitas, dan memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat pesisir maupun wilayah pegunungan.
Bagi Parigi Moutong, peluang masuk dalam program nasional itu menjadi momentum untuk menyatukan potensi pertanian, perkebunan, perikanan, dan pembangunan desa. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada kejelasan lokasi sasaran, kesiapan dokumen, koordinasi lintas lembaga, serta kemampuan pemerintah daerah memastikan program benar-benar menyentuh masyarakat.
Sumber: InfoPublik — Sumber asli
