PALU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menyebut angka anak putus sekolah pada jenjang TK hingga SMA turun sekitar 10 persen sepanjang Januari-September 2026. Penurunan tersebut dikaitkan dengan pelaksanaan sejumlah program pendidikan, termasuk Berani Cerdas dan upaya pendataan anak yang belum bersekolah.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido mengatakan, evaluasi terhadap program pendidikan daerah menunjukkan adanya penurunan angka putus sekolah pada berbagai jenjang. Pemerintah daerah masih melakukan pendataan untuk memastikan anak-anak yang belum bersekolah dapat kembali memperoleh layanan pendidikan.

“Jadi, sembari dengan Berani Cerdas, kami mencari mana sebenarnya anak-anak yang putus sekolah dan kami upayakan supaya mereka bisa sekolah kembali,” kata Reny di Palu, sebagaimana diberitakan ANTARA pada Jumat, 18 September 2026. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/393444/pemprov-angka-anak-putus-sekolah-di-sulteng-turun-sekitar-10-persen?utm_source=openai))

Program Berani Cerdas merupakan salah satu kebijakan unggulan Pemprov Sulteng di bidang pendidikan. Program itu diarahkan untuk meningkatkan akses, pemerataan, dan kualitas pendidikan, termasuk melalui dukungan pembiayaan bagi peserta didik dan mahasiswa asal Sulawesi Tengah.

Berdasarkan keterangan pemerintah provinsi, realisasi anggaran Berani Cerdas sepanjang 2026 mencapai Rp355,261 miliar. Anggaran tersebut antara lain digunakan untuk beasiswa bagi sekitar 47 ribu mahasiswa ber-KTP Sulawesi Tengah yang tersebar di 401 perguruan tinggi di Indonesia.

Selain beasiswa mahasiswa, dukungan pendidikan juga mencakup BOSDA, bantuan biaya SPP bagi siswa kurang mampu di sekolah swasta, beasiswa bagi siswa cerdas dan berbakat, serta bantuan Uji Kompetensi Keahlian dan Praktik Kerja Industri bagi siswa SMK. Pemprov juga mengalokasikan dukungan untuk seragam sekolah, peningkatan sarana pendidikan berbasis digital, serta pendidikan profesi bagi guru.

Laman resmi Dinas Pendidikan Sulawesi Tengah menyebut Berani Cerdas dirancang untuk memperluas kesempatan belajar masyarakat daerah. Program tersebut tidak hanya menyasar pendidikan sarjana, tetapi juga diperluas untuk jenjang magister dan doktoral pada 2026, terutama bidang yang dinilai strategis bagi kebutuhan daerah. ([disdik.sultengprov.go.id](https://disdik.sultengprov.go.id/program-berani-cerdas-dorong-peningkatan-ipm-sulteng?utm_source=openai))

Reny mengatakan, program Sekolah Rakyat yang merupakan kebijakan nasional turut mendukung upaya pemerintah dalam menekan angka putus sekolah. Namun, pemerintah daerah masih perlu memastikan anak-anak yang belum bersekolah dapat ditemukan melalui pendataan di lapangan.

Pendataan menjadi bagian penting karena angka putus sekolah tidak selalu terlihat dari laporan administrasi sekolah. Anak yang berhenti belajar dapat berada di berbagai wilayah, termasuk daerah yang sulit dijangkau. Karena itu, pemerintah perlu memastikan informasi dari sekolah, keluarga, dan pemerintah kabupaten atau kota dapat dihimpun secara berkala.

Pemprov Sulteng belum menyebutkan rincian jumlah anak yang masih putus sekolah setelah penurunan tersebut. Pemerintah hanya menyampaikan bahwa evaluasi penurunan sekitar 10 persen mencakup jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA pada periode Januari-September 2026.

Capaian itu tetap perlu diikuti dengan verifikasi data dan pemantauan berkelanjutan agar anak yang kembali masuk sekolah tidak kembali berhenti di tengah jalan. Dukungan biaya pendidikan, ketersediaan sekolah, pendampingan keluarga, serta akses transportasi menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga keberlanjutan pendidikan anak di Sulawesi Tengah.