Pemprov Sulawesi Tengah menebar 4.000 benih nila merah di Desa Sibedi, Sigi. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan menekan inflasi.
SIGI – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menebar 4.000 benih ikan nila merah di Desa Sibedi, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga ketersediaan ikan konsumsi di tengah potensi kenaikan harga ikan laut.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah Yopie Patiro mengatakan, penebaran benih itu dirangkaikan dengan penyaluran bantuan kepada kelompok masyarakat dan pembudidaya ikan di Sigi. Program tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan sumber pangan alternatif, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga yang mengelola kolam budidaya.
Menurut Yopie, ikan nila merah dipilih karena relatif mudah dipelihara dan biaya perawatannya dinilai lebih terjangkau bagi masyarakat. Masa pemeliharaan hingga panen diperkirakan berlangsung sekitar tiga sampai empat bulan, bergantung pada kondisi kolam, pakan, dan perawatan yang dilakukan pembudidaya.
“Bantuan benih ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan masyarakat sekaligus membantu menekan inflasi, terutama ketika harga ikan laut mengalami kenaikan,” kata Yopie dalam laporan yang dikutip ANTARA, Sabtu, 19 September 2026. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/393544/bantuan-benih-ikan-nila-tingkatkan-ekonomi-warga-sulawesi-tengah?utm_source=openai))
Selain penebaran benih, pemerintah provinsi juga menyalurkan bantuan kepada 10 kelompok penerima. Kelompok tersebut terdiri atas empat kelompok pembudidaya dan enam kelompok masyarakat. Sebagian benih dibagikan dalam kemasan berisi 200 ekor untuk setiap kelompok penerima.
Yopie menjelaskan, Sigi dipilih sebagai lokasi awal karena wilayah tersebut memiliki sejumlah fasilitas Unit Pembenihan Rakyat. Ketersediaan fasilitas itu dinilai dapat mendukung proses pemeliharaan sekaligus memudahkan pendampingan kepada kelompok penerima bantuan.
Untuk memastikan program berjalan, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah menyiapkan penyuluh perikanan dan tim pengawas. Mereka akan memberikan pendampingan secara berkala hingga masa panen. Pendampingan tersebut mencakup pemeliharaan ikan, pengelolaan pakan, serta pemantauan kondisi budidaya.
Pemerintah berharap hasil budidaya nila merah dapat membantu memenuhi kebutuhan ikan air tawar di tingkat masyarakat. Kehadiran pasokan alternatif ini dinilai penting ketika produksi atau distribusi ikan laut mengalami gangguan dan berdampak pada harga di pasar.
Pemberian bantuan benih juga diarahkan untuk mendorong masyarakat memanfaatkan lahan dan kolam yang tersedia secara produktif. Jika dikelola secara berkelanjutan, budidaya ikan air tawar berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga maupun kelompok usaha di desa.
Laporan lain mengenai kegiatan tersebut menyebut penebaran 4.000 benih nila merah di Desa Sibedi merupakan kegiatan perdana Pemprov Sulteng dalam program penguatan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Sigi. Pemerintah daerah berencana memperluas program serupa ke daerah lain sesuai kesiapan kelompok dan fasilitas pembudidayaan. ([faktasulteng.id](https://www.faktasulteng.id/pemda/pemprov-sulteng-tebar-4000-benih-nila-di-sigi-dorong-ketahanan-pangan-dan-tekan-inflasi-3336?utm_source=openai))
Meski demikian, keberhasilan program tetap bergantung pada perawatan setelah benih ditebar. Kualitas air, ketersediaan pakan, pengawasan terhadap penyakit, serta kemampuan kelompok mengelola kolam akan menentukan tingkat kelangsungan hidup ikan hingga masa panen.
Dengan pendampingan yang konsisten, program ini diharapkan tidak berhenti pada penyaluran bantuan benih. Pemerintah ingin kegiatan tersebut berkembang menjadi usaha produktif yang mampu memperkuat pasokan pangan, membantu menjaga harga ikan, dan meningkatkan pendapatan masyarakat Sigi.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah Yopie Patiro mengatakan, penebaran benih itu dirangkaikan dengan penyaluran bantuan kepada kelompok masyarakat dan pembudidaya ikan di Sigi. Program tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan sumber pangan alternatif, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga yang mengelola kolam budidaya.
Menurut Yopie, ikan nila merah dipilih karena relatif mudah dipelihara dan biaya perawatannya dinilai lebih terjangkau bagi masyarakat. Masa pemeliharaan hingga panen diperkirakan berlangsung sekitar tiga sampai empat bulan, bergantung pada kondisi kolam, pakan, dan perawatan yang dilakukan pembudidaya.
“Bantuan benih ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan masyarakat sekaligus membantu menekan inflasi, terutama ketika harga ikan laut mengalami kenaikan,” kata Yopie dalam laporan yang dikutip ANTARA, Sabtu, 19 September 2026. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/393544/bantuan-benih-ikan-nila-tingkatkan-ekonomi-warga-sulawesi-tengah?utm_source=openai))
Selain penebaran benih, pemerintah provinsi juga menyalurkan bantuan kepada 10 kelompok penerima. Kelompok tersebut terdiri atas empat kelompok pembudidaya dan enam kelompok masyarakat. Sebagian benih dibagikan dalam kemasan berisi 200 ekor untuk setiap kelompok penerima.
Yopie menjelaskan, Sigi dipilih sebagai lokasi awal karena wilayah tersebut memiliki sejumlah fasilitas Unit Pembenihan Rakyat. Ketersediaan fasilitas itu dinilai dapat mendukung proses pemeliharaan sekaligus memudahkan pendampingan kepada kelompok penerima bantuan.
Untuk memastikan program berjalan, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah menyiapkan penyuluh perikanan dan tim pengawas. Mereka akan memberikan pendampingan secara berkala hingga masa panen. Pendampingan tersebut mencakup pemeliharaan ikan, pengelolaan pakan, serta pemantauan kondisi budidaya.
Pemerintah berharap hasil budidaya nila merah dapat membantu memenuhi kebutuhan ikan air tawar di tingkat masyarakat. Kehadiran pasokan alternatif ini dinilai penting ketika produksi atau distribusi ikan laut mengalami gangguan dan berdampak pada harga di pasar.
Pemberian bantuan benih juga diarahkan untuk mendorong masyarakat memanfaatkan lahan dan kolam yang tersedia secara produktif. Jika dikelola secara berkelanjutan, budidaya ikan air tawar berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga maupun kelompok usaha di desa.
Laporan lain mengenai kegiatan tersebut menyebut penebaran 4.000 benih nila merah di Desa Sibedi merupakan kegiatan perdana Pemprov Sulteng dalam program penguatan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Sigi. Pemerintah daerah berencana memperluas program serupa ke daerah lain sesuai kesiapan kelompok dan fasilitas pembudidayaan. ([faktasulteng.id](https://www.faktasulteng.id/pemda/pemprov-sulteng-tebar-4000-benih-nila-di-sigi-dorong-ketahanan-pangan-dan-tekan-inflasi-3336?utm_source=openai))
Meski demikian, keberhasilan program tetap bergantung pada perawatan setelah benih ditebar. Kualitas air, ketersediaan pakan, pengawasan terhadap penyakit, serta kemampuan kelompok mengelola kolam akan menentukan tingkat kelangsungan hidup ikan hingga masa panen.
Dengan pendampingan yang konsisten, program ini diharapkan tidak berhenti pada penyaluran bantuan benih. Pemerintah ingin kegiatan tersebut berkembang menjadi usaha produktif yang mampu memperkuat pasokan pangan, membantu menjaga harga ikan, dan meningkatkan pendapatan masyarakat Sigi.
Sumber: ANTARA News Sulteng — Sumber asli
