PALU – Pemerintah Kota Palu memperkenalkan konsep kewirausahaan sosial kepada generasi muda melalui program Social Entrepreneurship and Economic Development atau SEED for Palu. Program ini diarahkan untuk mendorong lahirnya usaha yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat dan membuka peluang ekonomi baru.

Wali Kota Palu Hadianto Rasyid mengatakan pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah. Menurut dia, inisiatif masyarakat, terutama dari kalangan anak muda, dibutuhkan untuk memperkuat ekonomi lokal sekaligus menjawab berbagai persoalan sosial di lingkungan sekitar.

“Social Entrepreneurship and Economic Development (SEED) ini sangat penting dan cocok sekali untuk anak-anak muda,” kata Hadianto dalam kegiatan tersebut, sebagaimana diberitakan ANTARA News Sulteng, Selasa, 29 September 2026.

SEED for Palu menjadi ruang dialog yang mempertemukan pemerintah, akademisi, mitra pembangunan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM, komunitas, serta generasi muda. Forum tersebut membahas cara mengembangkan model usaha yang mampu berjalan secara berkelanjutan sekaligus memberikan dampak sosial.

Kegiatan SEED for Palu dibuka di Auditorium Kantor Wali Kota Palu pada Minggu, 27 September 2026. Agenda itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-48 Kota Palu. Sejumlah pihak turut hadir, di antaranya Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman dan Executive Director Sasakawa Peace Foundation, Dr. Nobuko Kayashima, bersama jajaran lembaganya.

Dalam konsep kewirausahaan sosial, pelaku usaha tidak hanya mengukur keberhasilan dari pendapatan atau keuntungan. Usaha juga diharapkan mampu menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat, memperluas kesempatan kerja, memperkuat kelompok rentan, atau mengembangkan potensi lokal secara bertanggung jawab.

Hadianto berharap SEED for Palu dapat melahirkan gagasan, inovasi, dan model usaha baru yang relevan dengan kebutuhan Kota Palu. Ia menilai anak muda perlu diberi ruang untuk menyampaikan ide sekaligus memperoleh pendampingan agar gagasan tersebut dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang nyata.

“Percepatan pembangunan tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Kita membutuhkan kolaborasi dari seluruh pihak,” ujarnya.

Penguatan kewirausahaan sosial juga dinilai penting karena UMKM menjadi salah satu sektor yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui kolaborasi antara pemerintah, kampus, komunitas, lembaga pembangunan, dan pelaku usaha, anak muda diharapkan tidak berhenti pada tahap pelatihan, tetapi mampu menyusun rencana bisnis, mengelola keuangan, memperluas pemasaran, serta membangun usaha yang memiliki dampak terukur.

Program SEED for Palu sebelumnya juga dikembangkan melalui rangkaian pelatihan yang membahas bisnis, investasi, pemasaran digital, pengelolaan keuangan, legalitas, dan keberlanjutan usaha. Inkubator Bisnis Kota Palu menyebut pendekatan tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas pemuda dan wirausaha sosial agar lebih siap menghadapi kebutuhan dunia usaha.

Selain mendorong kewirausahaan, Pemerintah Kota Palu menyampaikan perhatian terhadap peningkatan sumber daya manusia. Hingga 2026, Pemkot Palu menyebut telah memberikan bantuan tunai kepada sekitar 1.000 mahasiswa, masing-masing senilai Rp5 juta. Bantuan itu disebut sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda agar memiliki kapasitas dan kompetensi untuk berperan dalam pembangunan daerah.

Dengan menggabungkan pengembangan keterampilan, dukungan pendidikan, dan pembentukan jejaring usaha, SEED for Palu diharapkan dapat memperluas pilihan anak muda dalam membangun masa depan. Pemerintah kota menilai generasi muda tidak hanya perlu diposisikan sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi juga sebagai penggerak perubahan ekonomi dan sosial di Kota Palu.