Pemprov Sulawesi Tengah menyiapkan program cetak sawah baru seluas 3.000 hektare di 10 kabupaten untuk memperkuat produksi pangan dan ekonomi daerah.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menyiapkan program cetak sawah baru seluas 3.000 hektare yang tersebar di 10 kabupaten. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat produksi pangan sekaligus mendorong sektor pertanian menjadi penopang ekonomi daerah, sehingga pembangunan tidak hanya bertumpu pada pertambangan.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido mengatakan pengembangan sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan perlu dilakukan secara serius karena memiliki potensi besar untuk menciptakan nilai tambah dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Menurut Reny, cetak sawah baru bukan hanya berkaitan dengan perluasan lahan tanam. Program itu juga diharapkan menjadi bagian dari penerapan pertanian modern yang mampu meningkatkan kapasitas produksi beras secara berkelanjutan. Pemerintah daerah, kata dia, perlu memastikan pengembangan lahan dibarengi tata kelola yang baik, dukungan investasi, serta rantai pasok yang lebih kuat.
“Pengembangan ekonomi daerah harus memperhatikan potensi pertanian, perkebunan, dan perikanan sehingga perlu dikembangkan secara serius agar mampu memberikan nilai tambah serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat,” kata Reny di Palu, Sabtu, 26 September 2026.
Data Dinas Pertanian Sulawesi Tengah mencatat luas baku sawah di provinsi tersebut mencapai sekitar 126 ribu hektare. Adapun lokasi program cetak sawah baru tersebar di Kabupaten Buol, Donggala, Morowali Utara, Tojo Una-Una, Tolitoli, Poso, Sigi, Banggai, Parigi Moutong, dan Banggai Laut.
Pemerintah provinsi menilai penyebaran lokasi di sejumlah kabupaten dapat memperluas manfaat program, terutama bagi daerah yang memiliki lahan potensial dan masyarakat dengan mata pencaharian di sektor pertanian. Namun, keberhasilan program tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur pendukung, seperti jaringan irigasi, akses jalan produksi, ketersediaan benih, sarana mekanisasi, serta pendampingan kepada petani.
Program cetak sawah di Sulawesi Tengah sebelumnya juga menjadi bagian dari agenda nasional untuk memperkuat ketahanan pangan. Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Sulawesi Tengah menyebut program cetak sawah tahun anggaran 2026 membutuhkan koordinasi lintas sektor agar pelaksanaannya berjalan sesuai perencanaan dan target teknis.
Kementerian Pertanian juga telah mengingatkan agar pelaksanaan kegiatan cetak sawah dilakukan berdasarkan dokumen perencanaan dan kondisi nyata di lapangan. Pemeriksaan awal terhadap lokasi menjadi penting untuk mengantisipasi kendala teknis, termasuk persoalan kesesuaian lahan dan kebutuhan infrastruktur.
Selain beras, Pemprov Sulawesi Tengah ingin mendorong pengembangan komoditas lain seperti kelapa, kakao, durian, dan rumput laut. Pemerintah daerah membuka peluang investasi di sektor-sektor tersebut dengan catatan seluruh kegiatan memenuhi ketentuan hukum dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Langkah ini dinilai penting bagi Sulawesi Tengah yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil komoditas tambang. Dengan memperkuat pertanian, perkebunan, dan perikanan, pemerintah berharap struktur ekonomi daerah menjadi lebih seimbang dan tidak terlalu bergantung pada satu sektor.
Bagi petani, tambahan lahan sawah dapat membuka peluang peningkatan produksi dan pendapatan. Namun, program tersebut perlu dikawal sejak tahap pembukaan lahan hingga pengelolaan hasil panen. Tanpa dukungan irigasi, akses pasar, dan kepastian pembelian hasil produksi, perluasan lahan berisiko belum memberikan manfaat maksimal.
Pemprov Sulawesi Tengah menyatakan program cetak sawah baru akan terus diarahkan untuk mendukung kemandirian pangan sekaligus memperluas kesempatan ekonomi masyarakat di daerah.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido mengatakan pengembangan sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan perlu dilakukan secara serius karena memiliki potensi besar untuk menciptakan nilai tambah dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Menurut Reny, cetak sawah baru bukan hanya berkaitan dengan perluasan lahan tanam. Program itu juga diharapkan menjadi bagian dari penerapan pertanian modern yang mampu meningkatkan kapasitas produksi beras secara berkelanjutan. Pemerintah daerah, kata dia, perlu memastikan pengembangan lahan dibarengi tata kelola yang baik, dukungan investasi, serta rantai pasok yang lebih kuat.
“Pengembangan ekonomi daerah harus memperhatikan potensi pertanian, perkebunan, dan perikanan sehingga perlu dikembangkan secara serius agar mampu memberikan nilai tambah serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat,” kata Reny di Palu, Sabtu, 26 September 2026.
Data Dinas Pertanian Sulawesi Tengah mencatat luas baku sawah di provinsi tersebut mencapai sekitar 126 ribu hektare. Adapun lokasi program cetak sawah baru tersebar di Kabupaten Buol, Donggala, Morowali Utara, Tojo Una-Una, Tolitoli, Poso, Sigi, Banggai, Parigi Moutong, dan Banggai Laut.
Pemerintah provinsi menilai penyebaran lokasi di sejumlah kabupaten dapat memperluas manfaat program, terutama bagi daerah yang memiliki lahan potensial dan masyarakat dengan mata pencaharian di sektor pertanian. Namun, keberhasilan program tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur pendukung, seperti jaringan irigasi, akses jalan produksi, ketersediaan benih, sarana mekanisasi, serta pendampingan kepada petani.
Program cetak sawah di Sulawesi Tengah sebelumnya juga menjadi bagian dari agenda nasional untuk memperkuat ketahanan pangan. Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Sulawesi Tengah menyebut program cetak sawah tahun anggaran 2026 membutuhkan koordinasi lintas sektor agar pelaksanaannya berjalan sesuai perencanaan dan target teknis.
Kementerian Pertanian juga telah mengingatkan agar pelaksanaan kegiatan cetak sawah dilakukan berdasarkan dokumen perencanaan dan kondisi nyata di lapangan. Pemeriksaan awal terhadap lokasi menjadi penting untuk mengantisipasi kendala teknis, termasuk persoalan kesesuaian lahan dan kebutuhan infrastruktur.
Selain beras, Pemprov Sulawesi Tengah ingin mendorong pengembangan komoditas lain seperti kelapa, kakao, durian, dan rumput laut. Pemerintah daerah membuka peluang investasi di sektor-sektor tersebut dengan catatan seluruh kegiatan memenuhi ketentuan hukum dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Langkah ini dinilai penting bagi Sulawesi Tengah yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil komoditas tambang. Dengan memperkuat pertanian, perkebunan, dan perikanan, pemerintah berharap struktur ekonomi daerah menjadi lebih seimbang dan tidak terlalu bergantung pada satu sektor.
Bagi petani, tambahan lahan sawah dapat membuka peluang peningkatan produksi dan pendapatan. Namun, program tersebut perlu dikawal sejak tahap pembukaan lahan hingga pengelolaan hasil panen. Tanpa dukungan irigasi, akses pasar, dan kepastian pembelian hasil produksi, perluasan lahan berisiko belum memberikan manfaat maksimal.
Pemprov Sulawesi Tengah menyatakan program cetak sawah baru akan terus diarahkan untuk mendukung kemandirian pangan sekaligus memperluas kesempatan ekonomi masyarakat di daerah.
Sumber: ANTARA News Sulteng — Sumber asli
