PALU – Dinas Kesehatan Kota Palu, Sulawesi Tengah, menerima dua unit X-ray portabel dari Kementerian Kesehatan untuk memperluas pemeriksaan dan deteksi dini tuberkulosis atau TB di masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu Rochmat Jasin Moenawar mengatakan, bantuan tersebut akan digunakan untuk mendukung pelacakan kasus, terutama terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TB. Pemeriksaan tidak hanya menyasar anggota keluarga, tetapi juga tetangga, teman, serta orang lain yang sering berinteraksi dengan penderita.

Menurut Rochmat, penggunaan peralatan rontgen portabel diharapkan dapat membantu petugas menjangkau lebih banyak warga. Mobilitas alat tersebut memungkinkan pemeriksaan dilakukan secara lebih luas, termasuk dalam kegiatan penemuan kasus secara aktif di lingkungan masyarakat.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menemukan kasus TB sedini mungkin. Semakin cepat kasus diketahui, semakin cepat pula pasien dapat memperoleh pengobatan dan langkah pencegahan dapat diberikan kepada orang-orang yang berisiko tertular.

Dinkes Palu juga memperkuat kegiatan tracing atau pelacakan kontak. Warga yang tidak menunjukkan gejala tetap dapat diperiksa apabila memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TB. Jika memenuhi kriteria medis, mereka dapat diberikan terapi pencegahan tuberkulosis agar infeksi tidak berkembang menjadi penyakit.

Namun, pelaksanaan program tersebut masih menghadapi tantangan. Dinkes Palu mencatat cakupan pemberian terapi pencegahan tuberkulosis kepada kontak erat baru sekitar 23 persen. Petugas dinilai lebih mudah menemukan kontak keluarga, sedangkan kontak sosial sering kali tidak diketahui atau sulit dilacak.

Dalam kondisi ideal, satu pasien TB dapat memiliki sekitar 10 kontak erat yang perlu diperiksa. Akan tetapi, di lapangan jumlah kontak yang berhasil ditemukan terkadang masih jauh lebih sedikit. Karena itu, keterlibatan keluarga dan masyarakat menjadi penting untuk membantu petugas memperoleh informasi yang lengkap.

Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis per 16 Agustus 2026, penemuan kasus TB di Kota Palu mencapai 1.062 kasus atau 51,4 persen dari estimasi 2.066 kasus. Dari kasus yang telah ditemukan dan dinyatakan positif, lebih dari 85 persen pasien telah mendapatkan pengobatan.

Di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah, terdapat 4.770 kasus TB yang telah ditemukan dari estimasi beban 9.968 kasus. Capaian penemuan kasus tersebut berada pada angka 47,9 persen. Data itu menempatkan Sulawesi Tengah dalam jajaran provinsi dengan capaian penemuan kasus TB yang cukup tinggi secara nasional.

Dinkes Palu menyebut pengobatan harus dijalani secara teratur hingga tuntas agar pasien dapat pulih dan tidak menjadi sumber penularan baru. Masyarakat juga diimbau tidak memberikan stigma kepada penderita TB karena penyakit tersebut dapat disembuhkan apabila ditangani sesuai standar.

Selain pemeriksaan dan pengobatan, edukasi terus dilakukan melalui kerja sama dengan institusi pendidikan dan mahasiswa. Edukasi tersebut mencakup pengenalan gejala, pentingnya pemeriksaan bagi kontak erat, kepatuhan minum obat, serta upaya mencegah penularan di lingkungan keluarga.

Perluasan deteksi menggunakan dua X-ray portabel diharapkan memperkuat upaya Kota Palu mendukung target eliminasi TB secara nasional pada 2030. Keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga pada kesediaan warga untuk memeriksakan diri dan memberikan informasi mengenai riwayat kontak secara terbuka.