Ekonomi Sulawesi Tengah tumbuh 5,06 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekonomi daerah.
Perekonomian Sulawesi Tengah tumbuh 5,06 persen pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi daerah tetap bergerak positif, meskipun lajunya lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2026.
Data itu disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah dalam rilis perkembangan ekonomi daerah. Berdasarkan perhitungan produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku, nilai ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2026 mencapai sekitar Rp119,51 triliun. Sementara itu, berdasarkan harga konstan 2010, nilai PDRB tercatat sekitar Rp59,12 triliun. ([sulteng.bps.go.id](https://sulteng.bps.go.id/id/news/2026/08/05/518/siaran-pers-rilis-berita-resmi-statistik-5-agustus-2026.html?utm_source=openai))
Secara triwulanan, ekonomi Sulawesi Tengah tumbuh 2,93 persen dibandingkan triwulan I 2026. Adapun secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 mencapai 6,64 persen dibandingkan semester I 2025.
BPS mencatat industri pengolahan masih menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap struktur ekonomi Sulawesi Tengah. Sektor tersebut menyumbang 44,37 persen terhadap PDRB daerah. Kontribusi berikutnya berasal dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 15,60 persen, serta pertambangan dan penggalian sebesar 13,79 persen.
Jika digabungkan, ketiga sektor tersebut memberikan kontribusi sekitar 73,75 persen terhadap perekonomian Sulawesi Tengah. Komposisi ini memperlihatkan bahwa kegiatan industri, produksi komoditas pertanian, serta aktivitas pertambangan masih sangat menentukan pergerakan ekonomi daerah.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi pada triwulan II 2026 tercatat pada administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib. Sektor tersebut tumbuh 15,47 persen secara kumulatif pada semester I 2026. Kenaikan aktivitas pemerintahan turut berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi pemerintah.
Pada sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen yang mengalami pertumbuhan paling tinggi. BPS mencatat konsumsi pemerintah tumbuh 13,59 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Secara kumulatif hingga semester I, komponen tersebut meningkat 16,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. ([sulteng.bps.go.id](https://sulteng.bps.go.id/id/news/2026/08/05/518/siaran-pers-rilis-berita-resmi-statistik-5-agustus-2026.html?utm_source=openai))
Ekspor barang dan jasa tetap menjadi komponen dengan kontribusi terbesar dalam struktur pengeluaran ekonomi Sulawesi Tengah, yakni 115,73 persen. Di bawahnya terdapat pembentukan modal tetap bruto dengan kontribusi 37,12 persen. Angka kontribusi ekspor yang lebih dari 100 persen mencerminkan kuatnya peran perdagangan luar daerah dalam perekonomian, meskipun struktur tersebut juga dipengaruhi oleh besarnya komponen impor.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Tengah menilai pertumbuhan ekonomi daerah masih sangat berkaitan dengan kinerja industri pengolahan. Namun, pertumbuhan pada triwulan II 2026 tercatat melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 8,32 persen secara tahunan. Pemerintah daerah menilai penguatan industri perlu terus dilakukan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada ekspor bahan atau produk berbasis komoditas. ([disperindag.sultengprov.go.id](https://www.disperindag.sultengprov.go.id/view_artdet?art_no=3873&utm_source=openai))
Perkembangan ekonomi tersebut berlangsung bersamaan dengan kondisi pasar kerja yang relatif stabil. Pada Mei 2026, tingkat pengangguran terbuka di Sulawesi Tengah tercatat 2,97 persen. Jumlah penduduk bekerja mencapai 1,63 juta orang, dengan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar.
Dengan struktur ekonomi yang ditopang industri pengolahan, pertanian, dan pertambangan, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat. Penguatan usaha lokal, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta pengembangan hilirisasi menjadi sejumlah faktor penting agar pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah dapat berlangsung lebih merata dan berkelanjutan.
Data itu disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah dalam rilis perkembangan ekonomi daerah. Berdasarkan perhitungan produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku, nilai ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2026 mencapai sekitar Rp119,51 triliun. Sementara itu, berdasarkan harga konstan 2010, nilai PDRB tercatat sekitar Rp59,12 triliun. ([sulteng.bps.go.id](https://sulteng.bps.go.id/id/news/2026/08/05/518/siaran-pers-rilis-berita-resmi-statistik-5-agustus-2026.html?utm_source=openai))
Secara triwulanan, ekonomi Sulawesi Tengah tumbuh 2,93 persen dibandingkan triwulan I 2026. Adapun secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 mencapai 6,64 persen dibandingkan semester I 2025.
BPS mencatat industri pengolahan masih menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap struktur ekonomi Sulawesi Tengah. Sektor tersebut menyumbang 44,37 persen terhadap PDRB daerah. Kontribusi berikutnya berasal dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 15,60 persen, serta pertambangan dan penggalian sebesar 13,79 persen.
Jika digabungkan, ketiga sektor tersebut memberikan kontribusi sekitar 73,75 persen terhadap perekonomian Sulawesi Tengah. Komposisi ini memperlihatkan bahwa kegiatan industri, produksi komoditas pertanian, serta aktivitas pertambangan masih sangat menentukan pergerakan ekonomi daerah.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi pada triwulan II 2026 tercatat pada administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib. Sektor tersebut tumbuh 15,47 persen secara kumulatif pada semester I 2026. Kenaikan aktivitas pemerintahan turut berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi pemerintah.
Pada sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen yang mengalami pertumbuhan paling tinggi. BPS mencatat konsumsi pemerintah tumbuh 13,59 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Secara kumulatif hingga semester I, komponen tersebut meningkat 16,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. ([sulteng.bps.go.id](https://sulteng.bps.go.id/id/news/2026/08/05/518/siaran-pers-rilis-berita-resmi-statistik-5-agustus-2026.html?utm_source=openai))
Ekspor barang dan jasa tetap menjadi komponen dengan kontribusi terbesar dalam struktur pengeluaran ekonomi Sulawesi Tengah, yakni 115,73 persen. Di bawahnya terdapat pembentukan modal tetap bruto dengan kontribusi 37,12 persen. Angka kontribusi ekspor yang lebih dari 100 persen mencerminkan kuatnya peran perdagangan luar daerah dalam perekonomian, meskipun struktur tersebut juga dipengaruhi oleh besarnya komponen impor.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Tengah menilai pertumbuhan ekonomi daerah masih sangat berkaitan dengan kinerja industri pengolahan. Namun, pertumbuhan pada triwulan II 2026 tercatat melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 8,32 persen secara tahunan. Pemerintah daerah menilai penguatan industri perlu terus dilakukan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada ekspor bahan atau produk berbasis komoditas. ([disperindag.sultengprov.go.id](https://www.disperindag.sultengprov.go.id/view_artdet?art_no=3873&utm_source=openai))
Perkembangan ekonomi tersebut berlangsung bersamaan dengan kondisi pasar kerja yang relatif stabil. Pada Mei 2026, tingkat pengangguran terbuka di Sulawesi Tengah tercatat 2,97 persen. Jumlah penduduk bekerja mencapai 1,63 juta orang, dengan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar.
Dengan struktur ekonomi yang ditopang industri pengolahan, pertanian, dan pertambangan, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat. Penguatan usaha lokal, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta pengembangan hilirisasi menjadi sejumlah faktor penting agar pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah dapat berlangsung lebih merata dan berkelanjutan.
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah — Sumber asli
