Kementan bersama BRIN, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah meneliti gejala bangkalan yang menurunkan kualitas serta produksi durian di Sulteng.
Produksi durian di Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menghadapi gangguan akibat gejala yang oleh petani setempat disebut bangkalan. Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah, lembaga riset, dan perguruan tinggi kini melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebab serta merumuskan langkah penanganannya.
Tim gabungan telah turun ke lapangan pada 26-27 Agustus 2026. Peninjauan dilakukan di sejumlah sentra durian, termasuk Desa Baraban, Kecamatan Balinggi, Kabupaten Parigi Moutong. Tim melihat langsung kondisi tanaman dan buah yang dilaporkan terdampak gejala bangkalan.
Kementerian Pertanian menyebut gejala tersebut berpengaruh terhadap penurunan produksi durian di dua kabupaten. Kabupaten Poso sebelumnya mengalami peningkatan produksi sejak 2022 dan mencapai puncaknya pada 2025. Namun, produksi pada 2026 menurun seiring meningkatnya kejadian bangkalan pada tanaman durian.
Gejala yang ditemukan antara lain buah gugur sebelum mencapai tingkat kematangan optimal. Buah yang bertahan juga dilaporkan memiliki daging mengkal atau tidak matang sempurna, aroma yang berkurang, rasa lebih hambar, serta warna yang cenderung pucat. Kondisi tersebut tidak hanya menurunkan kualitas panen, tetapi juga berpotensi mengurangi pendapatan petani.
Direktur Perlindungan Hortikultura Kementerian Pertanian Leli Nuryati mengatakan, pengamatan awal mengarah pada dugaan gangguan fisiologis tanaman ketika memasuki fase berbuah. Ketersediaan dan keseimbangan unsur hara makro maupun mikro menjadi salah satu aspek yang sedang diperiksa.
Selain kondisi nutrisi tanaman, tim juga memberi perhatian pada tingkat keasaman tanah. Tanah yang terlalu masam dapat menghambat penyerapan unsur hara oleh akar, meskipun pemupukan telah dilakukan. Namun, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan akhir karena hasil pemeriksaan laboratorium masih diperlukan.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap, sampel tanah, daun, dan buah diambil dari tanaman yang menunjukkan gejala maupun tanaman yang masih sehat. Sampel tersebut akan diuji oleh lembaga dan tenaga ahli yang terlibat dalam penanganan kasus ini.
Penelitian melibatkan Kementan, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah, pemerintah daerah, Universitas Tadulako, Universitas Alkhairaat, BRIDA, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Tengah, serta unit teknis perlindungan tanaman.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah Dodot Tinarso mengatakan, penanganan perlu dilakukan segera karena durian merupakan salah satu komoditas unggulan daerah. Pemerintah daerah berharap kolaborasi lintas lembaga dapat menghasilkan rekomendasi teknis yang benar-benar sesuai dengan kondisi kebun petani.
Di Parigi Moutong, Kelompok Tani Budi Rahayu di Desa Baraban mengelola lahan durian sekitar 30 hektare. Petani menyambut baik keterlibatan pemerintah dan lembaga penelitian karena mereka membutuhkan kepastian mengenai penyebab gangguan serta cara pemulihan tanaman.
Pemerintah belum menetapkan penyebab tunggal gejala bangkalan. Hasil pengujian laboratorium dan pengamatan lapangan akan menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk perbaikan pemupukan, pengelolaan kesuburan tanah, dan tata kelola kebun.
Penanganan berbasis data dinilai penting agar petani tidak mengambil tindakan sendiri yang berisiko menambah kerusakan tanaman. Selain menjaga produksi di tingkat kebun, langkah tersebut diharapkan dapat mempertahankan mutu durian Sulawesi Tengah yang tengah dikembangkan untuk memenuhi pasar nasional dan ekspor.
Tim gabungan telah turun ke lapangan pada 26-27 Agustus 2026. Peninjauan dilakukan di sejumlah sentra durian, termasuk Desa Baraban, Kecamatan Balinggi, Kabupaten Parigi Moutong. Tim melihat langsung kondisi tanaman dan buah yang dilaporkan terdampak gejala bangkalan.
Kementerian Pertanian menyebut gejala tersebut berpengaruh terhadap penurunan produksi durian di dua kabupaten. Kabupaten Poso sebelumnya mengalami peningkatan produksi sejak 2022 dan mencapai puncaknya pada 2025. Namun, produksi pada 2026 menurun seiring meningkatnya kejadian bangkalan pada tanaman durian.
Gejala yang ditemukan antara lain buah gugur sebelum mencapai tingkat kematangan optimal. Buah yang bertahan juga dilaporkan memiliki daging mengkal atau tidak matang sempurna, aroma yang berkurang, rasa lebih hambar, serta warna yang cenderung pucat. Kondisi tersebut tidak hanya menurunkan kualitas panen, tetapi juga berpotensi mengurangi pendapatan petani.
Direktur Perlindungan Hortikultura Kementerian Pertanian Leli Nuryati mengatakan, pengamatan awal mengarah pada dugaan gangguan fisiologis tanaman ketika memasuki fase berbuah. Ketersediaan dan keseimbangan unsur hara makro maupun mikro menjadi salah satu aspek yang sedang diperiksa.
Selain kondisi nutrisi tanaman, tim juga memberi perhatian pada tingkat keasaman tanah. Tanah yang terlalu masam dapat menghambat penyerapan unsur hara oleh akar, meskipun pemupukan telah dilakukan. Namun, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan akhir karena hasil pemeriksaan laboratorium masih diperlukan.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap, sampel tanah, daun, dan buah diambil dari tanaman yang menunjukkan gejala maupun tanaman yang masih sehat. Sampel tersebut akan diuji oleh lembaga dan tenaga ahli yang terlibat dalam penanganan kasus ini.
Penelitian melibatkan Kementan, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah, pemerintah daerah, Universitas Tadulako, Universitas Alkhairaat, BRIDA, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Tengah, serta unit teknis perlindungan tanaman.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah Dodot Tinarso mengatakan, penanganan perlu dilakukan segera karena durian merupakan salah satu komoditas unggulan daerah. Pemerintah daerah berharap kolaborasi lintas lembaga dapat menghasilkan rekomendasi teknis yang benar-benar sesuai dengan kondisi kebun petani.
Di Parigi Moutong, Kelompok Tani Budi Rahayu di Desa Baraban mengelola lahan durian sekitar 30 hektare. Petani menyambut baik keterlibatan pemerintah dan lembaga penelitian karena mereka membutuhkan kepastian mengenai penyebab gangguan serta cara pemulihan tanaman.
Pemerintah belum menetapkan penyebab tunggal gejala bangkalan. Hasil pengujian laboratorium dan pengamatan lapangan akan menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk perbaikan pemupukan, pengelolaan kesuburan tanah, dan tata kelola kebun.
Penanganan berbasis data dinilai penting agar petani tidak mengambil tindakan sendiri yang berisiko menambah kerusakan tanaman. Selain menjaga produksi di tingkat kebun, langkah tersebut diharapkan dapat mempertahankan mutu durian Sulawesi Tengah yang tengah dikembangkan untuk memenuhi pasar nasional dan ekspor.
Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian — Sumber asli
