BRMP Sulawesi Tengah menggelar salat istisqa di Sigi seiring kemarau yang berisiko mengganggu produksi pertanian dan ketersediaan air.
SIGI – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tengah menggelar salat istisqa, Senin, 7 September 2026, sebagai ikhtiar menghadapi kemarau panjang yang mulai berdampak terhadap sektor pertanian dan ketersediaan air di sejumlah wilayah.
Salat untuk memohon turunnya hujan itu dilaksanakan sekitar pukul 07.15 WITA di halaman upacara BRMP Sulawesi Tengah, kawasan Taman Agro Modern, Desa Maku, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi. Kegiatan tersebut diikuti jajaran pegawai BRMP dan dipimpin imam dari Masjid Desa Maku.
Kepala BRMP Sulawesi Tengah Ruslan Boy menginisiasi pelaksanaan salat istisqa tersebut. Dalam keterangannya, BRMP menyebut kemarau berkepanjangan membuat kondisi cuaca terasa semakin panas dan kering. Situasi ini dinilai meningkatkan risiko kekeringan di sentra produksi pangan serta kebakaran hutan dan lahan. ([sulteng.brmp.pertanian.go.id](https://sulteng.brmp.pertanian.go.id/berita/kemarau-panjang-ancam-produktivitas-petani-brmp-sulawesi-tengah-gelar-sholat-istisqa))
Selain ikhtiar keagamaan, BRMP menyatakan tetap menjalankan langkah teknis dan pendampingan kepada petani binaan. Pendampingan itu diarahkan agar petani dapat menyesuaikan pengelolaan lahan dengan keterbatasan air dan menjaga keberlanjutan produksi pertanian.
Kondisi kemarau tahun ini sebelumnya telah dipetakan oleh Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri BMKG. Dalam prakiraan musim kemarau 2026, BMKG menyebut sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal. Sekitar 15 dari 29 zona musim diperkirakan memiliki sifat kemarau di bawah normal.
BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau di Sulawesi Tengah paling banyak terjadi pada September 2026, yang mencakup sekitar 72 persen wilayah. Sebagian wilayah juga diperkirakan mengalami musim kemarau lebih panjang dari biasanya. Karena itu, September disebut sebagai periode yang perlu mendapat perhatian lebih terhadap potensi dampak kemarau. ([gaw-bariri.bmkg.go.id](https://gaw-bariri.bmkg.go.id/index.php/profil/kegiatan/427-press-release-prakiraan-musim-kemarau-tahun-2026-sulawesi-tengah))
Dampak kekeringan telah terlihat di Kabupaten Parigi Moutong. Berdasarkan laporan ANTARA pada 22 Agustus 2026, sekitar 1.400 hektare lahan pertanian dan perkebunan di sembilan desa pada tiga kecamatan terdampak kemarau panjang. Wilayah itu mencakup Kecamatan Mepanga, Bolano Lambunu, dan Tomini.
BPBD Kabupaten Parigi Moutong menyebut hujan tidak turun sejak pertengahan Juni 2026 sehingga debit air di sejumlah wilayah terus menurun. Di Desa Kayu Agung, Kecamatan Mepanga, debit sumber air utama dilaporkan hanya tersisa sekitar 25 persen dari kondisi normal. Kondisi tersebut turut mengganggu distribusi air bersih bagi warga. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/390565/1400-ha-lahan-pertanian-di-parimo-terdampak-kekeringan))
Sejumlah lahan sawah di Kecamatan Mepanga juga dilaporkan mengalami kekeringan dan terancam gagal panen. Pemerintah daerah bersama BPBD telah melakukan kaji cepat dan mengidentifikasi kebutuhan berupa mesin pompa air, sumur bor, serta pasokan air bersih untuk masyarakat terdampak.
Kekeringan juga menjadi perhatian dalam pembahasan antara Komisi II DPRD Sulawesi Tengah dan BMKG SPAG Lore Lindu Bariri pada awal September. Pertemuan tersebut membahas pengaruh fenomena El Niño terhadap pola cuaca dan curah hujan, serta pentingnya informasi meteorologi untuk mendukung kebijakan menghadapi risiko kekeringan.
Dengan puncak kemarau diperkirakan berlangsung pada September, masyarakat dan pemerintah daerah diminta memperkuat penghematan air, menjaga lahan dari potensi kebakaran, serta memastikan petani memperoleh dukungan teknis. Bagi BRMP Sulawesi Tengah, salat istisqa menjadi bagian dari ikhtiar bersama yang berjalan beriringan dengan langkah adaptasi di lapangan.
Salat untuk memohon turunnya hujan itu dilaksanakan sekitar pukul 07.15 WITA di halaman upacara BRMP Sulawesi Tengah, kawasan Taman Agro Modern, Desa Maku, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi. Kegiatan tersebut diikuti jajaran pegawai BRMP dan dipimpin imam dari Masjid Desa Maku.
Kepala BRMP Sulawesi Tengah Ruslan Boy menginisiasi pelaksanaan salat istisqa tersebut. Dalam keterangannya, BRMP menyebut kemarau berkepanjangan membuat kondisi cuaca terasa semakin panas dan kering. Situasi ini dinilai meningkatkan risiko kekeringan di sentra produksi pangan serta kebakaran hutan dan lahan. ([sulteng.brmp.pertanian.go.id](https://sulteng.brmp.pertanian.go.id/berita/kemarau-panjang-ancam-produktivitas-petani-brmp-sulawesi-tengah-gelar-sholat-istisqa))
Selain ikhtiar keagamaan, BRMP menyatakan tetap menjalankan langkah teknis dan pendampingan kepada petani binaan. Pendampingan itu diarahkan agar petani dapat menyesuaikan pengelolaan lahan dengan keterbatasan air dan menjaga keberlanjutan produksi pertanian.
Kondisi kemarau tahun ini sebelumnya telah dipetakan oleh Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri BMKG. Dalam prakiraan musim kemarau 2026, BMKG menyebut sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal. Sekitar 15 dari 29 zona musim diperkirakan memiliki sifat kemarau di bawah normal.
BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau di Sulawesi Tengah paling banyak terjadi pada September 2026, yang mencakup sekitar 72 persen wilayah. Sebagian wilayah juga diperkirakan mengalami musim kemarau lebih panjang dari biasanya. Karena itu, September disebut sebagai periode yang perlu mendapat perhatian lebih terhadap potensi dampak kemarau. ([gaw-bariri.bmkg.go.id](https://gaw-bariri.bmkg.go.id/index.php/profil/kegiatan/427-press-release-prakiraan-musim-kemarau-tahun-2026-sulawesi-tengah))
Dampak kekeringan telah terlihat di Kabupaten Parigi Moutong. Berdasarkan laporan ANTARA pada 22 Agustus 2026, sekitar 1.400 hektare lahan pertanian dan perkebunan di sembilan desa pada tiga kecamatan terdampak kemarau panjang. Wilayah itu mencakup Kecamatan Mepanga, Bolano Lambunu, dan Tomini.
BPBD Kabupaten Parigi Moutong menyebut hujan tidak turun sejak pertengahan Juni 2026 sehingga debit air di sejumlah wilayah terus menurun. Di Desa Kayu Agung, Kecamatan Mepanga, debit sumber air utama dilaporkan hanya tersisa sekitar 25 persen dari kondisi normal. Kondisi tersebut turut mengganggu distribusi air bersih bagi warga. ([sulteng.antaranews.com](https://sulteng.antaranews.com/berita/390565/1400-ha-lahan-pertanian-di-parimo-terdampak-kekeringan))
Sejumlah lahan sawah di Kecamatan Mepanga juga dilaporkan mengalami kekeringan dan terancam gagal panen. Pemerintah daerah bersama BPBD telah melakukan kaji cepat dan mengidentifikasi kebutuhan berupa mesin pompa air, sumur bor, serta pasokan air bersih untuk masyarakat terdampak.
Kekeringan juga menjadi perhatian dalam pembahasan antara Komisi II DPRD Sulawesi Tengah dan BMKG SPAG Lore Lindu Bariri pada awal September. Pertemuan tersebut membahas pengaruh fenomena El Niño terhadap pola cuaca dan curah hujan, serta pentingnya informasi meteorologi untuk mendukung kebijakan menghadapi risiko kekeringan.
Dengan puncak kemarau diperkirakan berlangsung pada September, masyarakat dan pemerintah daerah diminta memperkuat penghematan air, menjaga lahan dari potensi kebakaran, serta memastikan petani memperoleh dukungan teknis. Bagi BRMP Sulawesi Tengah, salat istisqa menjadi bagian dari ikhtiar bersama yang berjalan beriringan dengan langkah adaptasi di lapangan.
Sumber: BRMP Sulawesi Tengah — Sumber asli
