Penurunan muka air Danau Poso di tengah El Nino menjadi perhatian karena PLTA Poso menopang pasokan listrik untuk empat provinsi di Sulawesi.
Penurunan muka air Danau Poso di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menjadi perhatian pengelola pembangkit dan PLN di tengah fenomena El Nino. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso yang selama ini memasok kebutuhan listrik di sejumlah wilayah Sulawesi.
Data pemantauan pada September 2026 menunjukkan elevasi Danau Poso berada di sekitar 510,3 meter di atas permukaan laut. Angka tersebut turun sekitar 1,6 meter dibandingkan posisi tertinggi pada Mei yang mencapai 511,9 meter. Kondisi itu juga lebih rendah 0,3 meter dibandingkan elevasi pada periode yang sama saat El Nino 2023.
Penurunan tersebut dipantau setelah Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo bersama rombongan meninjau kondisi Danau Poso pada 5 September 2026. Danau tersebut menjadi sumber energi bagi PLTA Poso, pembangkit yang melayani kebutuhan listrik di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
PT Poso Energy bersama PLN menyatakan telah menyiapkan langkah penguatan sistem untuk mengantisipasi dampak kemarau berkepanjangan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah operasi modifikasi cuaca sejak awal September. Kegiatan itu menggunakan dua unit pesawat tanpa awak di wilayah Desa Tokilo, Kecamatan Pamona Tenggara, serta Desa Meko, Kecamatan Pamona Barat.
Operasi tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kembali elevasi air danau. Namun, hasilnya tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang memungkinkan proses modifikasi cuaca berlangsung efektif.
Selain upaya tersebut, produksi energi PLTA Poso juga disesuaikan dengan kondisi musim. Pada musim hujan, porsi produksi ditetapkan sekitar 55 persen, sedangkan pada musim kemarau diturunkan menjadi sekitar 45 persen. Pengaturan ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan operasi pembangkit ketika debit air dan elevasi danau mengalami tekanan.
Ancaman terhadap pembangkit tenaga air di Sulawesi juga menjadi perhatian Asosiasi Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air. Asosiasi tersebut menyebut sejumlah pembangkit mulai menghadapi dampak kekeringan, meski belum tersedia satu angka resmi yang seragam untuk menggambarkan penyusutan debit air seluruh PLTA di wilayah tersebut.
Di sisi lain, masyarakat Kota Palu dan sejumlah daerah di sekitarnya telah mengalami pemadaman listrik bergilir. PLN UP3 Palu menjelaskan, kebijakan itu diterapkan untuk menjaga kestabilan sistem dan mencegah gangguan yang lebih besar. Pemadaman berlangsung sekitar tiga hingga empat jam secara bergantian dan telah dirasakan hampir dua pekan pada awal September.
Menurut PLN, kondisi tersebut terutama berkaitan dengan gangguan penyaluran transmisi akibat pemeliharaan kelistrikan di wilayah Sulawesi Selatan. Kenaikan konsumsi listrik akibat cuaca panas juga ikut menambah tekanan pada sistem. Beban puncak di wilayah kerja UP3 Palu dilaporkan berada pada kisaran 260 hingga 270 megawatt.
Wilayah pelayanan UP3 Palu mencakup Kota Palu serta Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una, Morowali, dan Morowali Utara. Jumlah pelanggan di delapan kabupaten/kota tersebut hampir mencapai 700 ribu pelanggan.
Dengan kondisi muka air Danau Poso yang diperkirakan masih berpotensi turun hingga Oktober, penguatan sistem dan pengaturan beban menjadi penting. Pemerintah daerah, PLN, dan pengelola PLTA perlu memastikan informasi mengenai jadwal pemadaman, kondisi pasokan, serta langkah mitigasi disampaikan secara terbuka agar masyarakat dan pelaku usaha dapat menyesuaikan aktivitasnya.
Data pemantauan pada September 2026 menunjukkan elevasi Danau Poso berada di sekitar 510,3 meter di atas permukaan laut. Angka tersebut turun sekitar 1,6 meter dibandingkan posisi tertinggi pada Mei yang mencapai 511,9 meter. Kondisi itu juga lebih rendah 0,3 meter dibandingkan elevasi pada periode yang sama saat El Nino 2023.
Penurunan tersebut dipantau setelah Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo bersama rombongan meninjau kondisi Danau Poso pada 5 September 2026. Danau tersebut menjadi sumber energi bagi PLTA Poso, pembangkit yang melayani kebutuhan listrik di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
PT Poso Energy bersama PLN menyatakan telah menyiapkan langkah penguatan sistem untuk mengantisipasi dampak kemarau berkepanjangan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah operasi modifikasi cuaca sejak awal September. Kegiatan itu menggunakan dua unit pesawat tanpa awak di wilayah Desa Tokilo, Kecamatan Pamona Tenggara, serta Desa Meko, Kecamatan Pamona Barat.
Operasi tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kembali elevasi air danau. Namun, hasilnya tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang memungkinkan proses modifikasi cuaca berlangsung efektif.
Selain upaya tersebut, produksi energi PLTA Poso juga disesuaikan dengan kondisi musim. Pada musim hujan, porsi produksi ditetapkan sekitar 55 persen, sedangkan pada musim kemarau diturunkan menjadi sekitar 45 persen. Pengaturan ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan operasi pembangkit ketika debit air dan elevasi danau mengalami tekanan.
Ancaman terhadap pembangkit tenaga air di Sulawesi juga menjadi perhatian Asosiasi Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air. Asosiasi tersebut menyebut sejumlah pembangkit mulai menghadapi dampak kekeringan, meski belum tersedia satu angka resmi yang seragam untuk menggambarkan penyusutan debit air seluruh PLTA di wilayah tersebut.
Di sisi lain, masyarakat Kota Palu dan sejumlah daerah di sekitarnya telah mengalami pemadaman listrik bergilir. PLN UP3 Palu menjelaskan, kebijakan itu diterapkan untuk menjaga kestabilan sistem dan mencegah gangguan yang lebih besar. Pemadaman berlangsung sekitar tiga hingga empat jam secara bergantian dan telah dirasakan hampir dua pekan pada awal September.
Menurut PLN, kondisi tersebut terutama berkaitan dengan gangguan penyaluran transmisi akibat pemeliharaan kelistrikan di wilayah Sulawesi Selatan. Kenaikan konsumsi listrik akibat cuaca panas juga ikut menambah tekanan pada sistem. Beban puncak di wilayah kerja UP3 Palu dilaporkan berada pada kisaran 260 hingga 270 megawatt.
Wilayah pelayanan UP3 Palu mencakup Kota Palu serta Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una, Morowali, dan Morowali Utara. Jumlah pelanggan di delapan kabupaten/kota tersebut hampir mencapai 700 ribu pelanggan.
Dengan kondisi muka air Danau Poso yang diperkirakan masih berpotensi turun hingga Oktober, penguatan sistem dan pengaturan beban menjadi penting. Pemerintah daerah, PLN, dan pengelola PLTA perlu memastikan informasi mengenai jadwal pemadaman, kondisi pasokan, serta langkah mitigasi disampaikan secara terbuka agar masyarakat dan pelaku usaha dapat menyesuaikan aktivitasnya.
Sumber: SultengMonitor — Sumber asli
