Ribuan masyarakat Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menggelar salat istisqa di Lapangan Sintuwu Maroso, Kamis, 10 September 2026. Salat yang dilakukan sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan itu digelar setelah wilayah Poso dan sekitarnya mengalami kemarau berkepanjangan selama kurang lebih tiga bulan.

Kegiatan tersebut diikuti masyarakat dari berbagai kalangan bersama unsur pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Poso. Pelaksanaan salat istisqa menjadi bentuk respons bersama terhadap kondisi kekeringan yang mulai dirasakan masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Poso Sutami M. Idris turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menyampaikan harapan agar doa yang dipanjatkan bersama dapat menjadi jalan turunnya hujan sekaligus memperkuat kepedulian antarwarga dalam menghadapi kemarau.

Menurut Kemenag Poso, kegiatan itu mengusung tema “Bersatu dalam Doa, Mengetuk Pintu Langit untuk Poso yang Kita Cintai”. Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Poso KH Arifin Tuamaka bertindak sebagai khatib dalam pelaksanaan salat tersebut.

Salat istisqa dilaksanakan melalui kerja sama Majelis Ulama Indonesia, Pemerintah Kabupaten Poso, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Poso, dan Panitia Hari Besar Islam. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kemarau tidak hanya dipandang sebagai persoalan cuaca, tetapi juga membutuhkan kebersamaan masyarakat dan perhatian pemerintah.

Kekeringan berkepanjangan dapat berdampak pada ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, peternakan, serta aktivitas masyarakat lainnya. Karena itu, pelaksanaan salat istisqa juga menjadi momentum untuk mengingatkan warga agar menggunakan air secara bijak dan tetap menjaga lingkungan selama kondisi kering berlangsung.

Di tingkat provinsi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sebelumnya menyebut kondisi hujan di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dipengaruhi penumpukan massa udara serta suhu muka laut yang lebih hangat. Kondisi tersebut dapat mendorong pertumbuhan awan hujan di beberapa daerah, tetapi kemunculan hujan tetap bersifat tidak merata dan tidak otomatis mengakhiri dampak kemarau di seluruh wilayah.

BMKG juga mengingatkan bahwa hujan yang terjadi di Sulawesi Tengah belakangan ini cenderung bersifat lokal. Artinya, satu wilayah dapat mengalami hujan, sementara daerah lain masih menghadapi cuaca kering. Situasi itu membuat masyarakat di kawasan yang belum memperoleh hujan tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap keterbatasan air dan potensi kebakaran lahan.

Bagi masyarakat Poso, salat istisqa menjadi bagian dari ikhtiar spiritual di tengah kondisi tersebut. Selain berdoa, warga diharapkan tetap mengikuti arahan pemerintah dan menjaga sumber air yang tersedia. Pemerintah daerah juga perlu memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak kemarau mendapat perhatian, terutama di wilayah yang mengalami penurunan ketersediaan air.

Kegiatan di Lapangan Sintuwu Maroso berlangsung dalam suasana khusyuk. Masyarakat berharap hujan segera turun secara merata sehingga kekeringan berakhir dan aktivitas warga, termasuk sektor pertanian, dapat kembali berjalan lebih baik.