Pemprov Sulawesi Tengah membuka peluang investasi cold storage, pabrik es, dan logistik rantai dingin untuk menjaga mutu hasil perikanan.
PALU – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah membuka peluang bagi pihak swasta untuk berinvestasi dalam pembangunan fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage. Fasilitas tersebut dinilai penting untuk menjaga mutu hasil tangkapan nelayan sekaligus memperkuat hilirisasi sektor perikanan di daerah.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Sulawesi Tengah Mohammad Syafar mengatakan pemerintah daerah siap memfasilitasi investor yang berminat membangun sarana pendukung perikanan. Selain cold storage, peluang investasi juga terbuka untuk pembangunan pabrik es, unit pengolahan ikan, serta layanan logistik dengan sistem rantai dingin.
Menurut Syafar, Pemprov Sulawesi Tengah saat ini memiliki tiga lokasi aset ruang pendingin yang berada di Kabupaten Donggala, Kabupaten Tolitoli, dan Kota Palu. Salah satu fasilitas tersebut telah disewakan kepada pelaku usaha. Pemerintah daerah masih memiliki lahan yang dapat dimanfaatkan di sejumlah unit pelaksana teknis yang tersebar di kabupaten dan kota.
Ketersediaan fasilitas penyimpanan dingin dibutuhkan karena hasil perikanan memiliki masa simpan terbatas. Tanpa penanganan yang memadai, kualitas ikan dapat menurun sebelum sampai ke pasar atau sentra pengolahan. Kondisi itu berpotensi mengurangi nilai jual hasil tangkapan dan mempersempit pilihan pemasaran bagi nelayan.
Data DKP Sulawesi Tengah mencatat total produksi perikanan provinsi tersebut pada 2025 mencapai 640.751,03 ton. Jumlah itu terdiri atas 328.393,08 ton produksi perikanan tangkap dan 312.357,95 ton perikanan budidaya. Produksi perikanan tangkap bahkan mencapai 118,40 persen dari target tahunan sebesar 277.364,94 ton.
Produksi perikanan tangkap terbesar berasal dari sejumlah wilayah pesisir dan kepulauan. Kabupaten Donggala tercatat menghasilkan 80.180,70 ton, disusul Morowali sebanyak 40.225,30 ton dan Banggai Laut sebesar 37.438,88 ton. Parigi Moutong, Banggai, serta sejumlah kabupaten lainnya juga menjadi daerah penyumbang produksi perikanan di Sulawesi Tengah.
Untuk perikanan budidaya, Banggai Kepulauan menjadi sentra utama dengan produksi 242.639,99 ton pada 2025. Daerah lain yang memiliki kontribusi cukup besar antara lain Banggai Laut, Donggala, Tojo Una-Una, dan Parigi Moutong.
DKP menilai besarnya produksi tersebut harus diikuti penguatan infrastruktur pascapanen. Komoditas seperti tuna, cakalang, tongkol, kakap, kerapu, udang, dan rumput laut memerlukan penanganan yang baik agar kualitasnya tetap terjaga saat dipasarkan ke daerah lain maupun untuk kebutuhan ekspor.
Selain meningkatkan daya tahan produk, rantai dingin dapat mendukung pengembangan industri pengolahan. Hasil tangkapan tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Langkah ini berpotensi memperluas pasar, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan pelaku usaha perikanan.
DKP menyebut Sulawesi Tengah memiliki sekitar 83.827 nelayan dan 35.900 pembudidaya ikan. Wilayah perairannya juga mencakup empat Wilayah Pengelolaan Perikanan yang menjadi basis produksi laut. Potensi tersebut menjadi alasan pemerintah daerah mendorong masuknya investasi pada sektor hilir.
Pada 2025, sektor perikanan tercatat memberikan kontribusi sekitar Rp11,61 triliun atau 2,8 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto Sulawesi Tengah. Dengan dukungan fasilitas penyimpanan, pengolahan, dan distribusi yang lebih baik, pemerintah berharap kontribusi sektor ini dapat meningkat sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi nelayan dan pembudidaya ikan.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Sulawesi Tengah Mohammad Syafar mengatakan pemerintah daerah siap memfasilitasi investor yang berminat membangun sarana pendukung perikanan. Selain cold storage, peluang investasi juga terbuka untuk pembangunan pabrik es, unit pengolahan ikan, serta layanan logistik dengan sistem rantai dingin.
Menurut Syafar, Pemprov Sulawesi Tengah saat ini memiliki tiga lokasi aset ruang pendingin yang berada di Kabupaten Donggala, Kabupaten Tolitoli, dan Kota Palu. Salah satu fasilitas tersebut telah disewakan kepada pelaku usaha. Pemerintah daerah masih memiliki lahan yang dapat dimanfaatkan di sejumlah unit pelaksana teknis yang tersebar di kabupaten dan kota.
Ketersediaan fasilitas penyimpanan dingin dibutuhkan karena hasil perikanan memiliki masa simpan terbatas. Tanpa penanganan yang memadai, kualitas ikan dapat menurun sebelum sampai ke pasar atau sentra pengolahan. Kondisi itu berpotensi mengurangi nilai jual hasil tangkapan dan mempersempit pilihan pemasaran bagi nelayan.
Data DKP Sulawesi Tengah mencatat total produksi perikanan provinsi tersebut pada 2025 mencapai 640.751,03 ton. Jumlah itu terdiri atas 328.393,08 ton produksi perikanan tangkap dan 312.357,95 ton perikanan budidaya. Produksi perikanan tangkap bahkan mencapai 118,40 persen dari target tahunan sebesar 277.364,94 ton.
Produksi perikanan tangkap terbesar berasal dari sejumlah wilayah pesisir dan kepulauan. Kabupaten Donggala tercatat menghasilkan 80.180,70 ton, disusul Morowali sebanyak 40.225,30 ton dan Banggai Laut sebesar 37.438,88 ton. Parigi Moutong, Banggai, serta sejumlah kabupaten lainnya juga menjadi daerah penyumbang produksi perikanan di Sulawesi Tengah.
Untuk perikanan budidaya, Banggai Kepulauan menjadi sentra utama dengan produksi 242.639,99 ton pada 2025. Daerah lain yang memiliki kontribusi cukup besar antara lain Banggai Laut, Donggala, Tojo Una-Una, dan Parigi Moutong.
DKP menilai besarnya produksi tersebut harus diikuti penguatan infrastruktur pascapanen. Komoditas seperti tuna, cakalang, tongkol, kakap, kerapu, udang, dan rumput laut memerlukan penanganan yang baik agar kualitasnya tetap terjaga saat dipasarkan ke daerah lain maupun untuk kebutuhan ekspor.
Selain meningkatkan daya tahan produk, rantai dingin dapat mendukung pengembangan industri pengolahan. Hasil tangkapan tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Langkah ini berpotensi memperluas pasar, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan pelaku usaha perikanan.
DKP menyebut Sulawesi Tengah memiliki sekitar 83.827 nelayan dan 35.900 pembudidaya ikan. Wilayah perairannya juga mencakup empat Wilayah Pengelolaan Perikanan yang menjadi basis produksi laut. Potensi tersebut menjadi alasan pemerintah daerah mendorong masuknya investasi pada sektor hilir.
Pada 2025, sektor perikanan tercatat memberikan kontribusi sekitar Rp11,61 triliun atau 2,8 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto Sulawesi Tengah. Dengan dukungan fasilitas penyimpanan, pengolahan, dan distribusi yang lebih baik, pemerintah berharap kontribusi sektor ini dapat meningkat sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi nelayan dan pembudidaya ikan.
Sumber: ANTARA News Sulteng — Sumber asli
