Neraca perdagangan Sulawesi Tengah pada Juli 2026 mencatat surplus US$658,46 juta. Ekspor besi dan baja menjadi penyumbang terbesar.
Palu - Neraca perdagangan Sulawesi Tengah mencatat surplus sebesar 658,46 juta dolar AS pada Juli 2026. Capaian tersebut menunjukkan nilai ekspor daerah masih lebih tinggi dibandingkan impor, meski aktivitas perdagangan luar negeri sepanjang tahun tetap mengalami perubahan dari bulan ke bulan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah, surplus pada Juli setara dengan sekitar Rp11,67 triliun menggunakan nilai tukar Rp17.727 per dolar AS. Kepala BPS Sulawesi Tengah Daryanto menyampaikan, kinerja tersebut ditopang oleh nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan nilai impor.
Nilai ekspor Sulawesi Tengah pada Juli 2026 mencapai 2.085,37 juta dolar AS atau sekitar Rp36,97 triliun. Angka ini meningkat 27,46 persen dibandingkan ekspor pada Juli 2025. Sementara itu, nilai impor tercatat 1.426,91 juta dolar AS atau sekitar Rp25,29 triliun, naik 67,06 persen secara tahunan.
Kenaikan impor tidak serta-merta menghapus surplus perdagangan karena pertumbuhan nilai ekspor masih lebih besar. Namun, peningkatan impor yang cukup tinggi menunjukkan kebutuhan bahan baku, energi, dan komponen pendukung kegiatan industri di Sulawesi Tengah juga mengalami perkembangan.
Komoditas besi dan baja menjadi penyumbang terbesar ekspor Sulawesi Tengah selama Juli. Nilainya mencapai 1.163,76 juta dolar AS atau sekitar Rp20,63 triliun, dengan kontribusi 55,81 persen terhadap total ekspor daerah. Komoditas nikel berada di urutan berikutnya dengan nilai 366,54 juta dolar AS atau sekitar Rp6,50 triliun dan kontribusi 17,58 persen.
Selain itu, bahan bakar mineral menyumbang 261,31 juta dolar AS atau sekitar Rp4,63 triliun. Komoditas tersebut memberikan kontribusi 12,53 persen terhadap total ekspor Sulawesi Tengah pada periode yang sama.
Dari sisi tujuan pengiriman, Tiongkok masih menjadi pasar utama komoditas asal Sulawesi Tengah. Nilai ekspor ke negara tersebut pada Juli mencapai 841,34 juta dolar AS atau sekitar Rp14,91 triliun, dengan porsi 40,34 persen dari keseluruhan ekspor.
India menempati posisi kedua dengan nilai ekspor 289,39 juta dolar AS, disusul Vietnam sebesar 218,21 juta dolar AS. Dominasi negara-negara Asia sebagai tujuan ekspor memperlihatkan kuatnya hubungan perdagangan Sulawesi Tengah dengan kawasan industri dan manufaktur di Asia.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Sulawesi Tengah sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencatat surplus 6.782 juta dolar AS atau sekitar Rp120,22 triliun. Nilai tersebut meningkat 1.235,43 juta dolar AS dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam tujuh bulan pertama 2026, nilai ekspor Sulawesi Tengah mencapai 14.783,87 juta dolar AS atau sekitar Rp262,07 triliun. BPS mencatat angka itu meningkat 22,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara total impor mencapai 8.001,84 juta dolar AS atau sekitar Rp141,85 triliun, naik 23,60 persen secara tahunan.
Data tersebut memperlihatkan bahwa sektor industri pengolahan, terutama yang berkaitan dengan besi, baja, dan nikel, masih menjadi penggerak utama perdagangan luar negeri Sulawesi Tengah. Besarnya porsi komoditas tersebut juga menunjukkan struktur ekspor daerah masih sangat bergantung pada sektor berbasis sumber daya alam dan industri pengolahan mineral.
Pemerintah daerah perlu memastikan peningkatan nilai perdagangan dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian masyarakat. Penguatan rantai pasok lokal, peningkatan keterlibatan pelaku usaha daerah, serta pengembangan industri hilir menjadi sejumlah aspek penting agar surplus perdagangan tidak hanya tercermin dalam angka ekspor, tetapi juga mendorong penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan usaha di Sulawesi Tengah.
Secara nasional, BPS juga mencatat perdagangan Indonesia pada Januari-Juli 2026 masih membukukan surplus. Kondisi tersebut menunjukkan kinerja ekspor tetap menjadi salah satu penopang ekonomi, meski tantangan berupa kenaikan impor, perubahan harga komoditas, dan ketergantungan pada pasar tertentu masih perlu diperhatikan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah, surplus pada Juli setara dengan sekitar Rp11,67 triliun menggunakan nilai tukar Rp17.727 per dolar AS. Kepala BPS Sulawesi Tengah Daryanto menyampaikan, kinerja tersebut ditopang oleh nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan nilai impor.
Nilai ekspor Sulawesi Tengah pada Juli 2026 mencapai 2.085,37 juta dolar AS atau sekitar Rp36,97 triliun. Angka ini meningkat 27,46 persen dibandingkan ekspor pada Juli 2025. Sementara itu, nilai impor tercatat 1.426,91 juta dolar AS atau sekitar Rp25,29 triliun, naik 67,06 persen secara tahunan.
Kenaikan impor tidak serta-merta menghapus surplus perdagangan karena pertumbuhan nilai ekspor masih lebih besar. Namun, peningkatan impor yang cukup tinggi menunjukkan kebutuhan bahan baku, energi, dan komponen pendukung kegiatan industri di Sulawesi Tengah juga mengalami perkembangan.
Komoditas besi dan baja menjadi penyumbang terbesar ekspor Sulawesi Tengah selama Juli. Nilainya mencapai 1.163,76 juta dolar AS atau sekitar Rp20,63 triliun, dengan kontribusi 55,81 persen terhadap total ekspor daerah. Komoditas nikel berada di urutan berikutnya dengan nilai 366,54 juta dolar AS atau sekitar Rp6,50 triliun dan kontribusi 17,58 persen.
Selain itu, bahan bakar mineral menyumbang 261,31 juta dolar AS atau sekitar Rp4,63 triliun. Komoditas tersebut memberikan kontribusi 12,53 persen terhadap total ekspor Sulawesi Tengah pada periode yang sama.
Dari sisi tujuan pengiriman, Tiongkok masih menjadi pasar utama komoditas asal Sulawesi Tengah. Nilai ekspor ke negara tersebut pada Juli mencapai 841,34 juta dolar AS atau sekitar Rp14,91 triliun, dengan porsi 40,34 persen dari keseluruhan ekspor.
India menempati posisi kedua dengan nilai ekspor 289,39 juta dolar AS, disusul Vietnam sebesar 218,21 juta dolar AS. Dominasi negara-negara Asia sebagai tujuan ekspor memperlihatkan kuatnya hubungan perdagangan Sulawesi Tengah dengan kawasan industri dan manufaktur di Asia.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Sulawesi Tengah sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencatat surplus 6.782 juta dolar AS atau sekitar Rp120,22 triliun. Nilai tersebut meningkat 1.235,43 juta dolar AS dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam tujuh bulan pertama 2026, nilai ekspor Sulawesi Tengah mencapai 14.783,87 juta dolar AS atau sekitar Rp262,07 triliun. BPS mencatat angka itu meningkat 22,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara total impor mencapai 8.001,84 juta dolar AS atau sekitar Rp141,85 triliun, naik 23,60 persen secara tahunan.
Data tersebut memperlihatkan bahwa sektor industri pengolahan, terutama yang berkaitan dengan besi, baja, dan nikel, masih menjadi penggerak utama perdagangan luar negeri Sulawesi Tengah. Besarnya porsi komoditas tersebut juga menunjukkan struktur ekspor daerah masih sangat bergantung pada sektor berbasis sumber daya alam dan industri pengolahan mineral.
Pemerintah daerah perlu memastikan peningkatan nilai perdagangan dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian masyarakat. Penguatan rantai pasok lokal, peningkatan keterlibatan pelaku usaha daerah, serta pengembangan industri hilir menjadi sejumlah aspek penting agar surplus perdagangan tidak hanya tercermin dalam angka ekspor, tetapi juga mendorong penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan usaha di Sulawesi Tengah.
Secara nasional, BPS juga mencatat perdagangan Indonesia pada Januari-Juli 2026 masih membukukan surplus. Kondisi tersebut menunjukkan kinerja ekspor tetap menjadi salah satu penopang ekonomi, meski tantangan berupa kenaikan impor, perubahan harga komoditas, dan ketergantungan pada pasar tertentu masih perlu diperhatikan.
Sumber: ANTARA News Sulteng — Sumber asli
