PALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat Sulawesi Tengah agar terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bumi. Imbauan itu disampaikan setelah gempa magnitudo 4,7 mengguncang Kabupaten Donggala pada Jumat, 11 September 2026.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, mengatakan gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Sesar Palu-Koro. Berdasarkan pemantauan BMKG, hingga Sabtu, 12 September 2026, baru tercatat satu gempa susulan dengan magnitudo 2,1.

Gempa susulan itu terjadi sekitar 11 kilometer di utara Donggala dengan kedalaman lima kilometer. BMKG menyebut aktivitas tersebut masih tergolong aktivitas tektonik biasa, tetapi masyarakat tetap diminta waspada karena kejadian gempa di lokasi yang sama masih terus dipantau.

Gempa utama terjadi pada Jumat, 11 September 2026, sekitar pukul 08.53 WITA. Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Donggala, Kota Palu, dan Kabupaten Sigi. Berdasarkan laporan BMKG, gempa itu tidak menjadi dasar untuk menyimpulkan adanya ancaman yang lebih besar dalam waktu dekat. Namun, masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi.

Djati menegaskan gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat mengenai waktu dan lokasi kejadiannya. Karena itu, kesiapsiagaan menjadi langkah penting yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko ketika guncangan terjadi.

Warga diimbau mengenali tempat aman di dalam maupun di sekitar rumah. Saat gempa berlangsung, masyarakat dapat berlindung di bawah meja atau benda kokoh, menjauh dari kaca dan lemari, serta tidak terburu-buru keluar melalui jalur yang berisiko. Setelah guncangan berhenti, warga perlu memeriksa kondisi bangunan dan menghindari bagian rumah yang retak atau berpotensi roboh.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar menyiapkan jalur evakuasi keluarga, menyimpan dokumen penting di tempat yang mudah dijangkau, dan mengetahui lokasi berkumpul yang telah disepakati. Langkah sederhana seperti menyiapkan tas darurat berisi air minum, obat-obatan, senter, makanan ringan, dan alat komunikasi juga dinilai penting.

Untuk memperkuat pemantauan, BMKG mengoperasikan 36 sensor gempa yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah. Sensor tersebut digunakan untuk merekam aktivitas kegempaan secara waktu nyata dan membantu penyampaian informasi kepada pemerintah serta masyarakat.

BMKG sebelumnya juga melakukan survei seismologi teknik setelah gempa magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah tenggara Palu pada 16 Juni 2026. Survei tersebut mencakup pendataan dampak guncangan serta kajian karakteristik tanah untuk mendukung perencanaan mitigasi dan pemulihan.

Masyarakat diminta menjadikan informasi BMKG sebagai rujukan utama terkait gempa bumi. Warga juga diharapkan tidak menyebarkan pesan berantai yang berisi prediksi waktu terjadinya gempa, karena informasi semacam itu tidak memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan kondisi Sulawesi Tengah yang berada di kawasan aktif tektonik, kesiapsiagaan perlu dibangun sebagai kebiasaan bersama, bukan hanya setelah terjadi gempa. Pemerintah daerah, sekolah, tempat kerja, dan lingkungan permukiman perlu rutin mengedukasi warga mengenai prosedur berlindung dan evakuasi saat bencana.