PARIGI MOUTONG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah berdampak pada area seluas 221,43 hektare sepanjang Januari hingga 9 September 2026. Lahan terdampak tersebut tersebar di 16 kecamatan di wilayah Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, mengatakan kebakaran menjadi salah satu ancaman bencana yang paling serius selama puncak musim kemarau tahun ini. Pemerintah daerah kemudian memperkuat langkah pencegahan dan penanganan karena eskalasi kebakaran menunjukkan kecenderungan meningkat.

Selain karhutla, BPBD mencatat kekeringan telah berdampak pada sekitar 1.635,5 hektare lahan di lima kecamatan. Wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Parigi, Mepanga, Bolano, Tomini, dan Ongka Malino. Kondisi tersebut turut memengaruhi ketersediaan air bersih dan aktivitas masyarakat, terutama warga yang menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian.

Sekitar 850 kepala keluarga dilaporkan ikut terdampak akibat kekeringan. Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, BPBD bersama tim gabungan menyalurkan air bersih menggunakan mobil tangki. Di Desa Bolano Barat, Kecamatan Bolano, distribusi air dilakukan dengan volume rata-rata 8.000 liter setiap hari.

Penyaluran air bersih menjadi salah satu langkah darurat yang dilakukan pemerintah daerah sembari mengusulkan dukungan tambahan kepada pemerintah pusat. Bantuan yang diharapkan antara lain berupa sumur bor, mesin pompa air, dan peralatan lain untuk membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat serta mengairi lahan pertanian yang terdampak.

Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong juga telah menetapkan status siaga darurat kekeringan dan karhutla di delapan kecamatan. Wilayah itu mencakup Palasa, Tomini, Mepanga, Ongka Malino, Bolano, Bolano Lambunu, Taopa, dan Moutong.

Penetapan status tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi, mengerahkan sumber daya, memantau wilayah rawan, serta mempercepat respons ketika terjadi kebakaran maupun krisis air bersih. Posko siaga darurat melibatkan BPBD, pemadam kebakaran, TNI dan Polri, Tagana, pemerintah kecamatan dan desa, serta Forum Pengurangan Risiko Bencana.

Sebelumnya, BPBD Parigi Moutong mendirikan posko siaga darurat untuk menghadapi dampak musim kemarau dan fenomena El Nino. Posko tersebut juga berfungsi sebagai pusat koordinasi distribusi air bersih dan penanganan karhutla, khususnya di wilayah utara dan bagian tengah Parigi Moutong.

BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta menghemat penggunaan air dan segera melaporkan apabila menemukan titik api, kepulan asap, atau kondisi kekurangan air bersih di lingkungan masing-masing.

Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, pemerintah daerah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Pencegahan dinilai penting karena keterbatasan sumber air dan cuaca kering dapat mempercepat penyebaran api, terutama pada lahan perkebunan, semak belukar, dan kawasan yang sulit dijangkau petugas.