Akses sulit menuju Dusun III Waturalele, Sigi, membuat tenaga kesehatan Puskesmas Kaleke harus berjalan kaki hingga enam jam untuk memberikan pelayanan.
SIGI – Keterbatasan akses jalan tidak menghalangi tenaga kesehatan Puskesmas Kaleke, Kabupaten Sigi, untuk mendatangi warga Dusun III Waturalele. Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, tim yang terdiri atas dokter, bidan, dan tenaga administrasi menempuh perjalanan panjang menuju permukiman di kawasan pegunungan tersebut.
Perjalanan dimulai sekitar pukul 12.00 WITA dari Desa Balaroa Pewunu, tepat di ujung jalan beraspal yang menjadi titik awal jalur menuju Waturalele. Tim harus menyusuri jalan berbatu, tanjakan, serta jalan setapak yang berada di sisi jurang. Sebagian anggota tim memilih berjalan kaki karena kondisi medan dinilai berisiko jika dilalui menggunakan sepeda motor.
Tim yang berjalan kaki baru tiba di Dusun III Waturalele sekitar pukul 18.00 WITA. Sementara itu, Kepala Puskesmas Kaleke Sitti Hajar menggunakan ojek setelah mempertimbangkan kondisi fisik dan beratnya medan. Perjalanan dengan sepeda motor tetap membutuhkan waktu sekitar satu jam dan dilakukan dengan sangat hati-hati.
Menurut Sitti, akses menuju wilayah tersebut berubah cukup drastis setelah melewati titik terakhir yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Saat cuaca panas, jalur menjadi berdebu. Ketika hujan turun, permukaan tanah berubah licin sehingga menyulitkan perjalanan. Kondisi ini juga menjadi tantangan besar ketika warga membutuhkan pertolongan dalam keadaan darurat.
Salah satu pengalaman yang pernah dihadapi tenaga kesehatan adalah penanganan ibu hamil yang mengalami perdarahan. Tim medis harus dijemput menggunakan ojek hingga ke permukiman. Setelah itu, pasien dievakuasi secara manual menggunakan tandu yang dibuat dari kursi gereja yang dimodifikasi. Proses evakuasi dilakukan bersama warga hingga mencapai titik yang dapat dijangkau kendaraan.
Dusun III Waturalele merupakan salah satu wilayah terpencil yang menjadi sasaran pelayanan Puskesmas Kaleke. Selain Waturalele, petugas juga melayani Dusun Topesino di Desa Mantikole serta wilayah Ngatapapu dan Wilao di Desa Balumpeva. Pelayanan dilakukan secara berkala dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan kondisi masing-masing wilayah.
Layanan yang diberikan cukup beragam, antara lain pemeriksaan kesehatan ibu hamil, kelas ibu hamil, kelas ibu balita, pengobatan oleh dokter, pemeriksaan kesehatan masyarakat, serta program Cek Kesehatan Gratis. Petugas juga mendatangi warga lanjut usia yang tidak mampu turun dari rumah karena keterbatasan mobilitas atau memiliki penyakit berisiko, seperti hipertensi dan stroke.
Dalam kunjungan tersebut, tenaga kesehatan turut memberikan vitamin A bagi anak usia enam bulan hingga lima tahun, obat cacing bagi anak sekolah, serta edukasi keluarga berencana. Warga yang belum memiliki jaminan kesehatan juga diarahkan untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa agar dapat memperoleh informasi dan bantuan sesuai ketentuan yang berlaku.
Data pendidikan pemerintah menunjukkan keberadaan SD Negeri Waturalele di wilayah tersebut. Dokumen pemerintah daerah juga mencatat Dusun Waturalele sebagai salah satu lokasi dengan tingkat keterjangkauan yang sulit bagi pelayanan Puskesmas Kaleke. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan akses bukan hanya berdampak pada layanan kesehatan, tetapi juga pada kegiatan pendidikan dan aktivitas sosial warga.
Puskesmas Kaleke telah menyiapkan tim bencana dan tim gerak cepat untuk merespons kondisi kegawatdaruratan, termasuk kasus pada ibu hamil. Namun, petugas tetap membutuhkan dukungan warga setempat, terutama apabila panggilan darurat terjadi pada malam atau dini hari. Warga biasanya menyampaikan informasi melalui kepala dusun, tokoh masyarakat, pastor, atau pendeta.
Sitti mengatakan masyarakat Waturalele mulai semakin memahami pentingnya menghubungi tenaga kesehatan ketika membutuhkan pertolongan. Meski demikian, medan yang berat membuat pelayanan harus disiapkan dengan perhitungan matang. Bagi petugas, perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan warga di wilayah terpencil tetap memperoleh hak atas pelayanan kesehatan.
Perjalanan dimulai sekitar pukul 12.00 WITA dari Desa Balaroa Pewunu, tepat di ujung jalan beraspal yang menjadi titik awal jalur menuju Waturalele. Tim harus menyusuri jalan berbatu, tanjakan, serta jalan setapak yang berada di sisi jurang. Sebagian anggota tim memilih berjalan kaki karena kondisi medan dinilai berisiko jika dilalui menggunakan sepeda motor.
Tim yang berjalan kaki baru tiba di Dusun III Waturalele sekitar pukul 18.00 WITA. Sementara itu, Kepala Puskesmas Kaleke Sitti Hajar menggunakan ojek setelah mempertimbangkan kondisi fisik dan beratnya medan. Perjalanan dengan sepeda motor tetap membutuhkan waktu sekitar satu jam dan dilakukan dengan sangat hati-hati.
Menurut Sitti, akses menuju wilayah tersebut berubah cukup drastis setelah melewati titik terakhir yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Saat cuaca panas, jalur menjadi berdebu. Ketika hujan turun, permukaan tanah berubah licin sehingga menyulitkan perjalanan. Kondisi ini juga menjadi tantangan besar ketika warga membutuhkan pertolongan dalam keadaan darurat.
Salah satu pengalaman yang pernah dihadapi tenaga kesehatan adalah penanganan ibu hamil yang mengalami perdarahan. Tim medis harus dijemput menggunakan ojek hingga ke permukiman. Setelah itu, pasien dievakuasi secara manual menggunakan tandu yang dibuat dari kursi gereja yang dimodifikasi. Proses evakuasi dilakukan bersama warga hingga mencapai titik yang dapat dijangkau kendaraan.
Dusun III Waturalele merupakan salah satu wilayah terpencil yang menjadi sasaran pelayanan Puskesmas Kaleke. Selain Waturalele, petugas juga melayani Dusun Topesino di Desa Mantikole serta wilayah Ngatapapu dan Wilao di Desa Balumpeva. Pelayanan dilakukan secara berkala dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan kondisi masing-masing wilayah.
Layanan yang diberikan cukup beragam, antara lain pemeriksaan kesehatan ibu hamil, kelas ibu hamil, kelas ibu balita, pengobatan oleh dokter, pemeriksaan kesehatan masyarakat, serta program Cek Kesehatan Gratis. Petugas juga mendatangi warga lanjut usia yang tidak mampu turun dari rumah karena keterbatasan mobilitas atau memiliki penyakit berisiko, seperti hipertensi dan stroke.
Dalam kunjungan tersebut, tenaga kesehatan turut memberikan vitamin A bagi anak usia enam bulan hingga lima tahun, obat cacing bagi anak sekolah, serta edukasi keluarga berencana. Warga yang belum memiliki jaminan kesehatan juga diarahkan untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa agar dapat memperoleh informasi dan bantuan sesuai ketentuan yang berlaku.
Data pendidikan pemerintah menunjukkan keberadaan SD Negeri Waturalele di wilayah tersebut. Dokumen pemerintah daerah juga mencatat Dusun Waturalele sebagai salah satu lokasi dengan tingkat keterjangkauan yang sulit bagi pelayanan Puskesmas Kaleke. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan akses bukan hanya berdampak pada layanan kesehatan, tetapi juga pada kegiatan pendidikan dan aktivitas sosial warga.
Puskesmas Kaleke telah menyiapkan tim bencana dan tim gerak cepat untuk merespons kondisi kegawatdaruratan, termasuk kasus pada ibu hamil. Namun, petugas tetap membutuhkan dukungan warga setempat, terutama apabila panggilan darurat terjadi pada malam atau dini hari. Warga biasanya menyampaikan informasi melalui kepala dusun, tokoh masyarakat, pastor, atau pendeta.
Sitti mengatakan masyarakat Waturalele mulai semakin memahami pentingnya menghubungi tenaga kesehatan ketika membutuhkan pertolongan. Meski demikian, medan yang berat membuat pelayanan harus disiapkan dengan perhitungan matang. Bagi petugas, perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan warga di wilayah terpencil tetap memperoleh hak atas pelayanan kesehatan.
Sumber: Radar Palu — Sumber asli
